Haruskah Perencanaan Merespon Perubahan Iklim?

Pertimbangan dampak perubahan iklim dalam perencanaan akan berurusan dengan sesuatu yang tidak pasti. Hal ini diakibatkan karena karakter dari kajian perubahan iklim yang memiliki tingkat ketidakpastian tinggi (Buuren et al, 2013). Dalam banyak situasi, kota tahu tentang konsekuensi dari peristiwa tertentu meskipun tidak yakin mengenai kemungkinan terjadinya. Buuren, dkk (2013) juga menyatakan ketidakpastian tentang perubahan iklim dan konsekuensinya tidak hanya meminta “fleksibilitas dan penyesuaian, tetapi juga untuk ketentuan yang kuat dan vokal yang menjaga kemungkinan keberlanjutan dan jangka panjang investasi spasial. Misalnya konsekuensi banjir sudah dikenal karena merupakan hasil dari peningkatan frekuensi hujan serta daya serap lahan yang kurang dan dibutuhkan suatu perencanaan yang kuat untuk mengatasinya, khususnya untuk bisa menjaga investasi di kota. Perubahan iklim juga bertidak sebagai faktor yang meningkatkan frekuensi, intensitas, dan durasi kejadian ekstrem seperti cara tak terduga dan akan membutuhkan kota untuk mengembangkan strategi adaptasi yang memungkinkan mereka untuk mengelola variabilitas dan ketidakpastian ini. Bencana yang bersifat mendadak atau rapid onset disaster seperti banjir, curah hujan ekstrim, dan gelombang panas perkotaan sering menerima perhatian para pemimpin kota dan perencana, tetapi tidak pada dampak bencana yang bersifat perlahan atau low onset disaster. Dampak perubahan iklim terhadap sistem perkotaan tidak selalu langsung dan cepat serta sering menyebabkan dampak sekunder. Perubahan iklim memunculkan tantangan yang berbeda bagi kota dalam menghadapinya meskipun tidak mungkin untuk memprediksi dengan kepastian yang mutlak sifat yang tepat dari dampak iklim. Perencanaan dalam prinsip kehati-hatian dan no-regret policy seharusnya membantu kota-kota dan warga negara mereka membangun sistem yang fleksibel dan dinamis dan lembaga yang mengidentifikasi dan menanggapi tantangan perubahan iklim untuk daerah perkotaan maupun wilayah perdesaan. Mengingat bahaya yang daerah hadapi dan kemungkinan dampak perubahan iklim, apa yang bisa lakukan untuk menjadi kota tangguh terhadap berbagai guncangan dan perubahan (bencana)? Perencanaan seharusnya membuat kota dalam fungsinya sebagai tempat aktivitas manusia dapat menghadapi guncangan ataupun gangguan. Perencanaan tanpa melihat perubahan iklim sebagai suatu yang pasti perlu mempersiapkan kota untuk bisa resilien dan berkelanjutan.   konsep Gambar. Konsep Management Kota Berkelanjutan (Modikasi dari WDR, 2014) Catatan: Panah umpan balik dalam diagram merupakan potensi hasil guncangan masa lalu untuk mempengaruhi eksposur dan kondisi internal, serta kecenderungan untuk guncangan di masa depan. Demikian pula, efektivitas manajemen risiko (perencanaan kota) secara signifikan dapat mempengaruhi sifat dan kecenderungan untuk guncangan di masa depan. Kota resilien menciptakan, mengaktifkan, dan mempertahankan layanan yang diperlukan untuk kelangsungan hidup dasar yang sedang berlangsung dan ditandai dengan kemampuan mereka untuk menghasilkan peluang baru bagi warga mereka. Kota resilien menghindari mengandalkan solusi yang bergantung pada mengantisipasi bahaya tertentu dan mengambil pendekatan yang lebih konprehensif. Isu perubahan iklim dalam penataan ruang yang cenderung bias ke sistem perkotaan dan cenderung berpikir dalam kerangka ekonomi pembangunan justru bisa menjadi penyeimbang, sekaligus memperbaiki kerangka berpikir pembangunan. Perubahan iklim memberikan dorongan kuat untuk mengintegrasikan faktor bencana alam secara lebih efektif ke dalam penataan ruang. Konsep adaptasi berpengaruh besar dalam konteks ketahanan kota. Ketahanan perkotaan adalah kemampuan dari sistem, komunitas atau masyarakat terkena bahaya untuk melawan, menyerap, menampung, dan pulih dari dampak bahaya secara tepat waktu dan efisien, termasuk melalui pelestarian dan restorasi struktur dasar yang penting (World Bank, 2012). Menurut Wijayanti (2008), salah satu alasan mengapa perspektif adaptasi perubahan iklim menjadi penting dalam penataan ruang adalah keputusan adalah selalu dibuat berdasarkan asumsi di belakang kepala. Tidak bisa diingkari bahwa keputusan-keputusan politis selalu diwarnai emosi-emosi tertentu. Persepsi bencana akan secara otomatis menghadirkan “korban” dan “usaha-usaha pertolongan”, untuk kemudian dilakukan usaha “pemulihan”. Sementara para pengambil keputusan yang meyakini perubahan iklim sebagai proses alam mungkin akan melompati proses pemulihan dan cenderung lebih berkonsentrasi kepada usaha menyesuaikan diri kepada kondisi yang baru. Pendeknya, persepsi-persepsi ini bisa melahirkan dua alternatif keputusan penataan ruang yang jauh berbeda, yaitu usaha untuk kembali ke keadaan semula, atau usaha untuk beradaptasi terhadap keadaan baru. Adaptasi” telah menerima perubahan iklim sebagai kenyataan yang harus dihadapi, dan “adaptasi” adalah memodifikasi rangkaian kegiatan manusia ke dalam bentuk-bentuk baru yang sesuai (Wijayanti, 2008). Ketidakpastian yang merupakan masalah perubahan iklim dan konsekuensinya tidak menjadikan kita berhenti untuk mempertimbangkannya dalam perencanaan. Mengakomodasi perubahan iklim bukan merupakan fungsi baru yang membutuhkan ruang. Hal ini menekankan kepada kondisi perubahan yang pola penggunaan lahan dan pola aktivitas yang harus beradaptasi, terutama karena konsekuensinya tidak pasti, mulit-aspek, kompleks dan kontroversial, tata kelola adaptasi adalah tindakan untuk menyeimbangkan. Namun, pada tingkat lokal, pengambil keputusan dan perencana tidak yakin apa yang bisa mereka lakukan tentang perubahan iklim di luar apa yang mereka sudah lakukan untuk meminimalkan risiko bencana dan guncangan lain (seperti teroris). Bagaimana mereka bisa menghitung peningkatan risiko karena masalah ini? Seberapa jauh harus perencanaan bencana yang ada ditingkatkan untuk melawan ancaman dari perubahan iklim? Sampai sekarang, tidak ada jawaban yang spesifik untuk pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi perencanaan adaptasi dibutuhkan secara mendesak. Daftar Pustaka Buuren, A. van, Driessen, P.P.J., Rijswick, H. van, Rietveld, P., Salet, W., Spit, T. & Teisman, G. 2013. Towards adaptive spatial planning for Climate Change: Balancing between Robustness and Flexibility. JEEPL 10.1 (2013) 29 – 53. Leiden. Wijayanti, L. 2008. Perspektif Adaptasi Perubahan Iklim dalam Penataan Ruang. Buletin Penataan Ruang. Jakarta. World Bank. 2012. The Rise of Metropolitan Regions: Towards Inclusive and Sustainable Regional Development. World Bank, Bappenas, Swiss, Australian Aid. Available Online: http://www.worldbank.org/. World Bank. 2014. World Development Report: Risk and opportunity Risk management can be a powerful instrument for development.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s