Menggapai Rakyat lewat Panggung Rakyat

“Siapa Shakespeare sebenarnya? Benarkah ia seorang sastrawan sejati? Atau hanya alat dalam intrik perebutan kekuasaan?” Begitulah kira-kira inti pengantar sebuah film keluaran tahun 2011, Anonymous. Film ini bercerita tentang teori bahwa sebenarnya Edward De Vere, Earl of Oxford, yang menulis drama Shakespeare. Terlibat terhadap suksesi Ratu Elizabeth I dan pemberontakan Essex melawan dia.

Hal yang menarik adalah bagaimana Edward melihat tulisan lewat drama, puisi menjadi penyampai ide yang baik kepada masyarakat kelas bawah. Ia—seorang bangsawan yang masih takut mengemukakan karyanya—meminta seorang penulis lain, Ben Jonson dari kasta yang berbeda untuk mementaskan karya nya. Kala itu seorang bangsawan dianggap tidak pantas menulis puisi maupun drama. Untuk hal itu juga, ia menggunakan nama Willian Shakespeare untuk karyanya.

Ide-idenya mulai dipentaskan di atas panggung yang disaksikan rakyat biasa. Menyentuh, menginspirasi sekaligus bisa menggerakkan rakyat. Hal ini yang kemudian dimamfaatkan oleh Edward De Vere untuk menggerakkan rakyat untuk usaha memberontak. Usahanya memang gagal, namun ia tetap saja berkeyakinan tentang ide yang hidup dalam tulisan-tulisannya.

Bahasa juga bisa setangguh senjata dalam memaksakan gagasan kepada rakyat adalah ide yang saya tangkap dalam film ini. Media penyampai, ya gunakan panggung rakyat. Ide ini juga sudah sejak dulu digunakan oleh Soekarno ketika dibuang. Ia menulis naskah drama, memimpin pementasannya untuk menanamkan ide. Panggung rakyat, pementasan wayang juga menjadi ajang penanaman nilai-nilai luhur kepada masyarakat. Bahkan PKI juga memafaatkan hal seperti ini dalam menanamkan idenya.

Tapi tampaknya pementasan seperti panggung rakyat, menjadi barang langka. Sering sekali hanya dinikmati oleh golongan tertentu saja. Namun sebenarnya ini tidak jadi masalah seharusnya sebab panggung sudah berpindah ke media lain, TV. Jika para negarawan atau katakanlah pemerintah jeli mau menanamkan ide yang baik kepada masyarakat, mereka harusnya memamfaatkan media ini. Dalam sebuah studi yang kami lakukan tentang kemiskinan suatu kota, lebih dari 70 % masyarakat miskinnya memiliki satu perangkat TV di kediaman mereka. Sayang sekali jika TV hanya menyiarkan cerita yang tampak seperti utopia belaka, namun tidak memberikan semangat kepada warganya.  Mungkin masih sulit membayangkan cerita dengan semangat kerja keras dan kebangsaan seperti Nankyoku Tairiku (2011) dari Jepang untuk tayang di TV Indonesia. Walaupun cerita ini sedikit berlebihan, punya titik logika yang kurang pas, tapi lebih baik dibanding cerita di Indonesia. Atau menghidupkan kembali serial yang dicintai oleh keluarga Indonesia, Keluarga Cemara.

Ada sedikit harapan sebenarnya jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memahami kekuatan bahasa dalam menanamkan ide ini. Mungkin lembaga ini bisa menjalin kerjasama dengan sebuah lembaga penyiaran, pegiat industri film yang mengusung idealisme untuk memunculkan serial atau tayangan atau pementasan-pementasan dalam TV. Idenya harus tidak seperti drama cengeng dan mistis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s