Nilai Hidup

Saya baru saja menyelesaikan membaca buku Tuesday With Morrie karya Mitch Albom. Buku ini bercerita tentang ‘kuliah’ terakhir sang profesor dengan mantan mahasiswanya yang juga teman baiknya. Mereka bercerita banyak tentang nilai-nilai kehidupan yang mereka alami dari pengalaman selama hidup mereka. Hal yang paling menarik bagi saya adalah sesi kamis ke 11 dengan tema budaya. Budaya yang dimaksud disini adalah nilai-nilai yang hidup diantara masyarakat seperti yang digambarkan Morrie seperti uang, tampilan fisik, dll.

Pertanyaan besar Morie menurut saya dalam sesi itu adalah nilai apa yang kamu usung dalam hidup ini? Apakah mengikut aliran umum atau aturan masyarakat atau kita memang memiliki pilihan bebas tanpa perlu mengikut asumsi masyarakat? Nilai yang ingin diberitahu oleh Morrie adalah kita hidup di dalam masyarakat dan harus mengikuti aturan-aturan atau paham umum masyarakat yang lumrah—misal dalam sesi ini, Morrie mengatakan tidak telanjang di muka umum dan hal kecil lainnya. Tetapi untuk hal yang paling besar atau lebih tepatnya mendasar, kita harus menentukannya sendiri. Hal mendasar yang dikatakan Morrie adalah bagaimana kita berpikir, apa yang kita nilai harus  tentukan sendiri dan jangan membiarkan sesorang ataupun masyarakat yang menentukannya untukmu.

Pernyataan ini menjadi berkesan bagi saya dan menjadi nilai utama yang buku ini tonjolkan. Pernyataan ini relevan bagi dunia yang serba materialistis ini. Seberapa banyak gaya hidup kita dipengaruhi oleh permintaan komunitas? Badan proporsional, kulit putih mulus adalah indikator kecantikan atau ketampanan? Gaji besar, kendaraan mewah, karir menjadi standar kesuksesan dalam hidup? Dan banyak standar lainnya termasuk dalam hubungan adat.

Hal-hal yang baru disebutkan memang sering mengendalikan kita untuk menimbang sesuatu. Kita sering takut untuk gagal memenuhi standar yang dibebankan komunitas kita. Misalkan saja, kita adalah lulusan dari sebuah kampus bonafit di negeri ini, seakan sudah ditandai bahwa kita nantinya bekerja pada perusahaan besar dengan gaji besar. Atau mungkin pada hal-hal lainnya.

Namun, ketika standar yang dibebankan atau yang diterapkan kepada kita berdasar dari sesuatu yang bisa hilang atau dari atau yang ‘diciptakan’ manusia bukankah itu terlalu sederhana. Uang, kemewahan, kecantikan memang sesuatu yang memikat kemanusiaan kita namun tetap saja terlalu sederhana. Mungkin sesederhana siklus hidup jika kita lihat sebagai urutan lahir, anak-anak, remaja, dewasa, kuliah, bekerja, bekeluarga, tua dan akhirnya mati. Tapi dengan melihat nilai yang mengutip judul buku Rick Warren yang terkenal itu, apa tujuan yang menggerakkan hidup kita, mungkin hidup jauh lebih baik dari sekedar siklus saja.

Jadi apa yang menjadi nilai hidup kita? apa yang membuat kita bekerja sekarang? Apa yang membuat kita (berencana) menikah? Itu semua kembali kepada kita masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s