ONAN

Pasar tradisional secara teoritis adalah suatu institusi yang bercirikan adannya kegiatan interaksi antara pembeli dan penjualan yang didalamnya terdapat kesepakatan mengenai jumlah barang dan harganya.Unsur penting dalam pasar adalah adalah penawaran (supply) oleh para penjual dan permintaan (demand) oleh para pembeli. Namun diluar fungsi ekonomi, pasar tradisional lebih sekedar tempat jual-beli.

Dalam bahasa daerah Batak, pasar dikenal dengan bahasa OnanOnan berasal dari kata “on” dan “an” artinya ini dan itu. Sadia on, sadia an, berapa ini, berapa itu merupakan suatu kalimat tanya yang sering terucap dalam berbelanja di pasar.

Pasar tradisional di Pangururan

 Onan, selain berfungsi sebagai pasar, perjumpaan antara penjual dan pembeli, mempertukarkan bahan-bahan komoditi dan hasil kerajinan seperti ulos dan tikar dulunya merupakan tempat pertemuan para raja-raja huta.

Onan diselenggarakan oleh huta-huta yang menjadi anggotanya. Hari onan diselenggarakan sekali seminggu, secara tetap dan berkelanjutan. Tertib dan aturan onan dijaga dengan baik dan diawasi oleh seorang panggomgom onan (pemerintah pasar) sebagai Raja ni Onan.

Onan sejatinya bukan sekedar tempatnya untuk berbelanja. Onan, merupakan sebuah interaksi sosial yang sudah lama dan tidak bisa diciptakan secara tiba-tiba. Fungsi onan sebagai media interaksi sosial terlihat dalam penyampaian kabar huta atau kampung. Berita adanya tokoh yang meninggal, ataupun berita lainnya akan sangat sangat cepat tersampaikan di pasar. Maka tak heran jika kaum politikus sering sekali memamfaatkan pasar sebagai media penyebar informasi. Baik yang baik ataupun yang tidak.

Onan selalu memberi warna bagi hari-hari bagi daerah. Dampak eksternalitas baik positif dan negatif akan selalu ada. Onan identik dengan ramai, kotor, ribut.

Mungkin sedikit berbeda ketika kita bepergian ke pasar di Jawa Tengah atau Bali yang sedikit lebih tertata, bersih.

Pasar Agung di Bali

Ditengah semakin “modern” nya jaman, pasar pun ikut mengambil istilah “modern”. Pasar dengan tidak ada tawar-menawar atau dalam bahasa ekonomi nya non-competitive market menawarkan layanan berbeda. Layanan ambil sendiri dan fix-price ditunjang dengan tempat bersih, pelayanan ramah dan lebih tenang. Namun untungnya gaya hidup ini hanya disukai oleh kaum kota yang lebih cendrung individualis.

Namun, pasar tradisional akan tetap dan perlu dipertahankan. Sebuah ikatan sosial akan tetap ada pada masyarakat Indonesia yang sarat hidup dalam aturan budaya. Pasar bukan sekedar tempat menjual, membeli barang-barang, tapi suatu tatanan sosial dalam piramida sosial yang ketika hilang akan mengganggu stabilitas sosial, dan mungkin saja ekonomi. Untuk itu, mungkin beberapa aspek perlu dibenahi dalam layanan pasar tradisional. Mungkin kebersihan, cara menyajikan dagangan, tapi semuanya kembali kepada pedagang dan budayanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s