Kaderisasi, Sebuah Utopia Kampus

Kaderisasi menjadi sebuah ‘barang sakral’ dalam dunia kemahasiswaan. Kaderisasi menjadi sebuah ajang untuk menciptakan kader ataupun penerus sebuah ide ataupun organisasi, sejatinya. Kami merasa bahwa ide dan organisasi kami perlu diteruskan untuk sebuah tujuan yang besar dan mulia. Setidaknya itu yang menjadi keyakinan untuk meneruskan kaderisasi di kampus kami.

Kaderisasi ibarat saudara kembar dari kuliah resmi di kampus, hanya saja tanpa SKS. Kaderisasi dengan bahasa mewahnya adalah sebuah proses antara kader dan pengkader untuk menanamkan idealisme kemahasiswaan, atau bisa kita sebut pengkader idealisme. Walaupun banyak yang melakukan kaderisasi karena menganggapnya sebagai program rutinan saja,kita sebut saja pengkader praktis.

Setiap organisasi di kampus adalah organisasi yang mengalir, setidaknya kata pengakader sebelum saya. Setiap mahasiswa nantinya akan keluar dari kampus baik dengan mendapatkan gelarnya ataupun tidak.  Oleh karena itu, ide dan pergerakan organisasi perlu diteruskan oleh mereka yang masih berstatus mahasiswa. Karena kebutuhan itu, maka organisasi menciptakan sebuah utopia pengajaran yang kita sebut kaderisasi.

Kaderisasi sering sekali dirancang sangat utopia. Bahan bacaan wajib pun tak kalah mentereng, walau banyak yang tak mengerti apa arti bacaan tersebut. Ada satu judul buku yang sangat sering tersebut dalam hal urusan kaderisasi, yaitu Pendidikan Orang Tertindas karya Paulo Freire. Seorang pengajar berkebangsaan Brazil yang menuliskannya akibat melihat proses pengajaran bagi mereka kalangan bawah. Buku ini memang bagus dan menjelaskan tentang arti sejati dari pendidikan, yaitu memanusiakan manusia. Namun sering sekali para pengkader idealisme menjunjungnya tinggi dan berharap bisa menerapan pada dunia kampus sembari mencocokkan kasusnya pada kehidupan Indonesia. Dan kaderisasi praktis, lebih baik mendengarkan yang sudah membaca saja.

Kaderisasi memang barang mewah dan saat ini adalah barang langka. Kaderisasi saat ini tampak begitu dangkal dengan penekanan pada aspek praktis, bukan pada kedalaman pemahaman dan ide. Hal ini terlihat banyak dari mahasiswa yang merasa melakukan kaderisasi padahal hanya menjalankannya sebagai rutinitas organisasi.  Tentu pemahaman ini akan berbeda dengan kaderisasi dalam artian utopia tadi.

Kaderisasi sejatinya adalah proses belajar setiap saat di dalam organisasi tersebut. Sama dengan belajar, proses kaderisasi tersebut berhenti ketika organisasi nya mati.

Namun, dengan semakin dangkalnya pemahaman dan langkah kaderisasi yang terjadi pada mahasiswa sekarang—bisa dilihat dari kedalaman materi/ide yang disampaikan dan cara penyampainannya—utopia kaderisasi tampaknya harus kembali diterapkan. Pemahaman bahwa mahasiswa adalah agen perubahan, generasi penerus, dan penjaga nilai harus kembali didengungkan walau memang utopia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s