Sehari di Cariu; Bertani dengan Cerdas

Minggu, 22 Januari 2012, saya dan beberapa teman berencana untuk bepergian ke suatu tempat bernama Cariu di Kabupaten Bogor. Tujuan kami adalah sebuat tempat pelatihan pertanian milik Pak Mindo Sianipar, alumni Teknik Kimia ITB angkatan 72 yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR di komisi 4 di bidang pertanian. Tempat ini mempunyai luas 12 Ha dengan berbagai macam jenis kegiatan pertanian. Tempat ini juga menjadi tempat pelatihan pertanian bagi salah satu partai politik besar di Indonesia. Perjalanan kami memakan waktu yang cukup lama dari yang seharusnya dikarenakan kesalahan pada memilih rute perjalanan😀.

Kedatangan kami pada hari minggu tersebut disambut langsung oleh beliau. Kami pun memperkenalkan diri dan langsung saja berdiskusi dengan santai. Singkat cerita, dari paparan beliau, aktivitas pertanian di lokasi ini terdiri dari sawah seluas 4 Ha, ternak kelinci, ternak kerbau, bebek, berbagai ikan air tawar, dan sayuran. Beliau pun dengan semangat bercerita tentang pertaniannya ini.

Ada ada satu topik yang beliau pun dengan semangat bercerita kepada kami. Topik pengembangan ternak kelinci di Indonesia. Ternak kelinci di Indonesia belum diperhatikan secara serius meskipun pada kepimpinan alm presiden Soeharto sudah digemakan. Kelinci menurut penuturan beliau memiliki beberapa kelebihan dibanding ayam atau ternak besar. Nilai gizi kelinci diyakini lebih baik dibanding dengan ayam dan lebih rendah lemak. Dan dibanding dengan ternak besar, kelinci memiliki keunggulan dibidang ekonomi karena mampu bereproduksi sampai 8 kali setahun. Jelas ini membuat perputaran uang semakin cepat bagi petani. Keunggulan lainnya adalah bulu kelinci ternyata lebih halus dari bulu domba maupun alpaca.

‘Tentu petani bisa memamfaatkan potensi ini untuk menjadi pengumpul bulu kelinci’ kata beliau. Tentang mitos bahwa kelinci harus di daerah dingin pun dibantah beliau. ‘Kelinci bisa dimanapun’ cerita beliau, bahkan lanjutnya, ‘di daerah Arab saja ada peternakan kelinci, banyangkan saja suhu di daerah sana. Tidak mungkin mereka pakai air-conditioner untuk peternakan kelinci’. Program ternak kelinci ini pun sudah diusulkan sebagai program nasional dibidang pertanian.

Disamping cerita tentang kelinci yang menarik, hal lain yang patut dipelajari di sini adalah konsep zero waste. Konsep tanpa sisa ini maksudnya tidak ada sumber daya yang terbuang baik itu kotoran hewan maupun gabah dari padi. semua sisa tanaman dan hewan digunakan kembali baik itu untuk mejadi kompos, sebagai bahan pembuat pelet untuk hewan, sampai menjadi wadah bertanam jamur. Sungguh suatu konsep yang patut ditiru dalam pengembangan pertanian di Indonesia.

Tak terasa sembari berdiskusi ternyata makan siang sudah dihidangkan. Hidangan makan siang terdiri dari nasi, sayur jamur dan ikan lele. Hidangan ini semuanya berasal dari hasil sendiri. Nikmatnya mengisi perut setelah sebelumnya mengisi kantong ilmu.

Sehabis makan siang kami melanjutkan kunjungan dengan mengelilingi komples pertanian ini. Kami ditemani oleh mas Puji, salah satu petani di sini. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kandang kelinci. Di sini kami diberi penjelasan mengenai ternak kelinci mulai dari bentuk kandang, pakan yang dibuat khusus agar kelinci nya lebih besar sampai penjelasan tentang reproduksi kelinci. Ternyata kelinci memiliki tingkat birahi yang sangat tinggi. Kelinci jantan setelah kawin dengan satu kelinci betina dan beristirahat selama 25 menit, siap untuk kawin dengan betina lain. Dan untuk kelinci betina, setelah melahirkan, dalam waktu 15 hari kemudian siap untuk kawin lagi. Sempat terlintas bahwa mungkin ini alasan logo majalah Playboy adalah kelinci😀 . Hal ini yang memungkinkan kelinci bisa bereproduksi 8 kali dalam setahun. Jika kondisi kelinci ini dimamfaatkan dengan baik, maka nilai ekonomi dengan beternak kelinci sungguh amat baik dibanding beternak hewan besar.

Tempat yang kami kunjungi berikutnya adalah tempat pembuatan pelet. Pembuatan pelet ini menggunakan semua sumber daya yang ada di tempat ini. Awal pembuatannya adalah mengumpulkan kotoran kerbau yang ada, kemudian menunggu sampai muncul magot, cacing dari sejenis lalat. Kemudian magot ini yang digunakan menjadi bahan utama pelet dengan berbagai proses seperti penumbukan, pencetakan, dan pemasakan. Pelet ini digunakan untuk pakan kelinci dan bebek. Kemudian pelet yang sudah agak lama dan hampir berjamur digunakan sebagai pakan ikan tawar. Konsep tidak ada sisa.

Kami melanjutkan kunjungan ke bagian padi. Pada kesempatan ini kami diperkenalkan kepada jenis padi organik dan bukan organik. Pupuk yang digunakan pun sebagian besar adalah kompos yang diolah dari sisa gabah dengan bantuan mikroba serta tambahan dari air seni kelinci yang memilki banyak kandungan nitrogen. Aliran air untuk sawah ini sudah dialirkan terlebih dahulu melewati kolam ikan. Tujuannya adalah kotoran ikan nantinya bisa menjadi tambahan pupuk alami bagi padi. Beranjak dari sawah kami menuju tempat pengembang biakan jamur. Jamur yang dibudidayakan adalah jamur tiram. Wadah jamur ini pun menggunakan sisa dari gabah padi. Di tempat ini kami dijelaskan sedikit mengenai potensi ekonomi dari jamur. Budidaya jamur ini termasuk cukup mudah karena tidak memerlukan biaya besar serta perlengkapan yang canggih. Pasar dari jamur ini sendiri pun cukup baik, seperti hotel dan restoran. Di tempat ini pak jamur—sebutan untuk petaninya bercerita tentang potensi masakan jamur dan daging kelinci.

Menurut penuturan beliau, jamur dan kelinci mempunyai prospek kuliner yang baik, hanya saja belum banyak yang memulai. Mungkin hal ini karena banyak orang melihat kelinci sebagai binatang piaraan yang lucu dan imut sehingga sayang untuk dikonsumsi. .Dikatakan juga jamur bisa diolah menjadi masakan sate yang sangat enak. Kami kemudian didorong agar mencoba memulai usaha makanan dari jamur dan kelinci. Beliau memberi berbagai saran dan tips tentang usaha kuliner berbahan kelinci dan jamur. Salah satu tips yang diberikan adalah tentang penamaan dari warung. Beliau mencontohkan beberapa nama yang mungkin akan menarik pelanggan. Misalnya saja ‘Warung Kejam’ yang merupakan singkatan dari warung kelinci dan jamur. Kemudian ‘Warung Sajam’ yang dimana sajam identik dengan istilah polisi akan senjata tajam, ternyata kependekan dari warung sate jamur. Ya, tentu saja ide ini masuk ke kepala kami masing-masing.

Sore hari kami kemudian bertemu lagi dengan Pak Mindo sembari minum kopi. Di sesi ini bang Mindo—panggilan akrab beliau bercerita tentang inovasi-inovasi di bidang mikroba yang sedang dikembangkan. Beberapa inovasinya adalah pakan kelinci agar lebih gemuk, menjadikan air putih menjadi tuak dengan menggunakan mikroba dan mengurangi keasaman kopi dengan mikroba. Inovasi ini masih terbatas penggunaannya, belum di produksi secara besar. Namun, cerita inovasi-inovasi ini membuat berbagai kekaguman dan semangat untuk berbuat lagi. Inovasi-inovasi seperti ini sangat dibutuhkan dalam dunia pertanian Indonesia yang notabene adalah negeri agraris.

Menjelang malam abang tersebut undur diri untuk kembali ke Jakarta, kemudian kami dipersilahkan menginap di ruang pelatihan tersebut. Ya, kesempatan yang baik untuk mengkristalkan ide-ide yang baru ditemukan.

8 thoughts on “Sehari di Cariu; Bertani dengan Cerdas

  1. Cukup menarik..
    Dalam sekali bereproduksi, berapa jumlah anak kelinci yang bisa dilahirkan Im?
    Ga ada disebutin tuh nampaknya..🙂

    Menurut saya, perputaran ekonomi ayam lebih kencang ketimbang kelinci..
    Alasannya adalah demand ayam jauh lebih besar ketimbang kelinci..🙂

    1. kalau sekali melahirkan, bisa sekitar 8 sampai 10 bang

      benar bang, permintaan mengatur persediaan. justru karena itu. kelinci masih berada pada barang tersier, belum masuk ke substitusi. padahal kelebihan kelinci dibanding ayam sudah disebutkan di atas. justru itu bang, pasar harus diciptakan dan permintaan harus disediakan. gmn bg? mau turut mencipta pasar? heheh

      1. Cukup tertarik..
        Cuma blm untuk saat ini..
        Harus bikin FS (Feasibility Study) nya dlu..🙂

        Kalau ada peluang2, boleh info2..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s