Perencanaan Partisipatif dan Pengetahuan Politik pada Proses Perencanaan (3)

Praktek Pembangunan Partisipatif (diambil dari berita YDA Solo)

Yayasan Duta Awam Solo (YDASolo) Jawa Tengah, mengambil inisiatif untuk ‘mencontohkan’ pelaksanaan merancang pembangunan di desa. Sejak akhir 2003 YDASolo membantu pelaksanaan Musbandes di beberapa desa, yang dikemas organisasi ini dalam program Perencanaan Strategis Desa (Renstra Desa). Hingga sekarang program ini bergulir di antaranya di Desa Bade Kecamatan Klego Kab Boyolali, Desa Suroteleng Kecamatan Selo Kab Boyolali, Desa Nguneng Kecamatan Puhpelem Kab Wonogiri, dan Desa pesu Kecamatan Wedi Kab Klaten, yang kesemuanya itu di wilayah Provinsi Jateng.

Dari Contoh Renstra Desa di ke-empat desa itu, tersusun kegiatan yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. baik berupa pembangunan sarana/prasarana fisik maupun berupa upaya peningkatan SDM masyarakat. serta pendataan potensi desa yang dapat dikembangkan. Selain itu, tersusun juga data kendala-kendala bagi pengembangan masyarakat.

Urutan Pelaksanaan

Kegiatan Renstra tahap paling awal adalah kegiatan sosialisasi ke masyarakat dan aparat desa. Yakni mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membuat sebuah perencanaan pembangunan desa. dari sosialisasi ini diharapkan muncul kesadaran dan semangat (masyarakat dan aparat) akan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan pembangunan desa, sejak dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi akhir.

Tahap selanjutnya, adalah menentukan waktu pelaksanaan Renstra dan peserta yang terlibat di dalamnya. Penentuan waktu ini penting agar masyarakat yang terlibat dapat terus mengikuti kegiatan. Sedangkan penentuan peserta dilakukan karena memang tidak mungkin semua masyarakat terlibat. Maka YDASolo bersama unsur-unsur di desa yang ada, menyepakati kriteria peserta Renstra. Dalam contoh keempat desa di atas, peserta Renstra bukan saja berdasarkan kewilayahan yang ada di desa, tapi juga ada wakil lembaga yang ada di desa, golongan usia, dan golongan profesi.

Tentu perserta harus meluangkan waktu untuk mengikuti Renstra hingga selesai. Ada pula kriteria, bahwa peserta sudah tinggal di wilayah tersebut dalam waktu tertentu, sehingga mengetahui masalah-masalah yang ada di sekitarnya.

Dari Renstra, terdatalah masalah yang ada dan potensi yang ada di desa. kemudian dilakukan perencanaan pemanfaatan potensi untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah di-list oleh peserta Renstra, atau rencana kegiatan berdasarkan potensi yang ada.

Kalau disederhanakan dalam poin-poin urutan (garis besar) pelaksanaan, maka Renstra desa yang difasilitasi oleh YDASolo, adalah sebagai berikut:

  1. Sosialisasi: Terutama untuk memberi pemahaman tentang alasan dan tujuan pelaksanaan Renstra.
  2. Perencanaan: Menentukan peserta, waktu dan tempat pelaksanaan.
  3. Pemetaan Masalah: Memetakan seluruh masalah yang ada di desa, dalam kategori jenis masalah, penyebab dan dampak.  Pemetaan Potensi: Memetakan seluruh potensi yang ada di desa
  4. Membuat Keterkaitan Antar Masalah: Yakni masalah dianalisis keterkaitannya dan hubungan sebab akibatnya.
  5. Memilih Prioritas: Masalah yang sudah dipetakan, dipilih sesuai tingkat kebutuhan dan kemudahan penyelesaiannya.
  6. Merancang Kegiatan Penyelesaian Masalah: Masalah yang sudah dianalisis dan dipilih, kemudian disusun langkah-langkah penyelesaiannya, lengkap dengan peta stakeholder (pihak terkait), kebutuhan (dalam kegiatan menyelesaikan masalah) dan potensi yang mendukung penyelesaian masalah.

Hasil Rensra ini merupakan rencana/agenda pembangunan desa untuk beberapa tahun, tergantung kesepakatan yang dibuat peserta kapan kegiatan tersebut akan di lakukan. Hasil Renstra dari ke-empat desa yang di sebut di atas sangat beragam, namun dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Permasalahan Kesehatan
  2. Permasalahan Pendidikan
  3. Permasalahan Pertanian
  4. Kebutuhan sarana/prasarana fisik
  5. Soal pelestarian Sumber Daya Alam
  6. Persoalan pengembangan ekonomi

Di Desa Nguneng misalnya, dari hasil Rentra telah tersusun rangkaian kegiatan bidang kesehatan, mulai dari pengorganisasian kader kesehatan desa, training-training untuk peningkatan SDM kader kesehatan. Hingga kini desa Nguneng telah memiliki Pos Yandu Baliata dan Lansia di tiap dusun. Desa ini juga kini Pos obat Desa (POD) di tiap dusun dan koperasi yang khusus didedikasikan untuk memdukung dana kegiatan kesehatan masyarakat. Selain kegiatan kesehatan, sebagai salah satu  hasil Renstra juga, Desa Nguneng kini memiliki tim pelaksana untuk pelayanan air bersih, dan pengembangan unit kegiatan ekonomi bagi Karang Taruna dan kelompok tani.

Di desa lain, bergulir juga hal senada. Misalnya di Desa Bade Kec Klego Kab Boyolalai Jateng, kelompok pemuda-tani-nya membuat perpustakaan desa. Sedangkan kelompok taninya melakukan perluasan usaha ekonomi dengan membuat usaha pengemasan kencur instan.

Beberapa kendala memang ada, namun dengan niatan memperjuangkan pembanguan partisipatif, jalan keluar juga selalu ada. Dengan berkumpul dan bermusyawarah dengan masyarakat yang semakin sadar hak-tanggungjawabnya sebagai warga, selalu saja kita dapat menghimpun kekuatan dalam menyelesaikan masalah.

Dalam perjalanan di empat desa itu, selanjutnya Musbangdes yang ada diharapkan makin dapat menyerap pelajaran, sehingga Musbangdes betul-betul bertumpu pada permasalahan yang nyata di masyarakat, dengan memanfaatkan pula potensi yang ada di desa sebaik-baiknya.

Dengan melihat contoh diatas, bahwa banyak sekali kepentingan yang harus diakomodir oleh perencanaan sehingga pengetahuan  politik dapat membuat posisi perencana yang netral bagi masyarakat dan pemerintah.

Perencanaan dengan pendekatan partisipatif jika dikaitkan dengan pendapat Friedmann (1987), merupakan suatu proses politik untuk memperoleh kesepakatan bersama melalui aktivitas negosiasi antar seluruh pelaku pembangunan. Proses politik ini dilakukan secara transparan dan mudah diakses sehingga masyarakat memperoleh dapat mengetahui setiap proses pembangunan yang dilakukan dan perkembangannya.

Bekal pengetahuan politik bagi para perencana mutlak dibutuhkan agar dalam proses perencanaan, perencana dapat berpikir dan bertindak sebagai pihak yang netral. Sebagai contoh, perencana harus dapat memetakan para stakeholder yang terlibat (stakeholder mapping) dengan jeli, mana yang paling berpengaruh (influence) dan mana yang paling memiliki kepentingan (interest), sehingga sebelum terjadi pengambilan keputusan, perencana dapat melakukan aktifitas politik (lobbying, contacting, dll) kepada pihak-pihak yang berkonflik untuk membuat suatu kesepakatan bersama sesuai dengan etika politiknya. Bekal ilmu politik ini juga akan memudahkan perencana dalam melihat perannya (positioning) dengan stakeholder yang lain, khususnya dalam memberikan akses yang luas bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam proses perencanaan dan kemudian menjadi wasit yang mengerti aturan main (rule of the game) ketika proses tersebut berlangsung. Oleh karena itu, para perencana hendaknya perlu melihat pengetahuan politik sebagai cara pandang yang baik (positive thinking) untuk mencapai tujuan penatan ruang:

1. Pemahaman bahwa politik kekuasaan (power) sebagai anugerah Tuhan. Politik kekuasaan bukan sesuatu yang buruk dan harus dipergunakan untuk kebaikan masyarakat. Dengan demikian peran perencana dapat dipandang sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada rakyat dan kepada Tuhan.

2. Pemahaman untuk lebih berpihak kepada yang lemah (pro poor). Kelompok masyarakat ini adalah masyarakat bependapatan rendah dan seringkali termarjinalkan, bahkan menjadi korban ketidak-adilan pembangunan. Keberpihakan kepada mereka tidak boleh dilandasi oleh sentimen-sentimen yang bersifat primordial (suku, ras atau agama) dan harus sesuai dengan koridor hukum.

3. Mendorong perubahan proses perencanaan yang demokratis Reformasi dan Desentralisasi pembangunan di Indonesia telah membuka ruang demokrasi yang luas sehingga tuntutan untuk lebih melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan semakin besar. Perencana harus mampu mengelaborasi pendekatan perencanaan teknoratis yang rasional dengan pendekatan politik yang terkadang irasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s