Perencanaan Partisipatif dan Pengetahuan Politik pada Proses Perencanaan (1)

PENDAHULUAN

Perencanaan dan politik memiliki kaitan yang erat. Meskipun seringkali, keduanya tidak dapat dipertemukan dengan mudah atau tidak dapat dilihat secara kasat mata oleh publik. Tidak dapat dilihat, melainkan dapat dipersepsikan. Perubahan-perubahan yang menyangkut keputusan tata guna lahan dan zoning akan turut mempengaruhi kepentingan publik. Seringkali pula kepentingan itu tidak satu, melainkan beragam dari berbagai kelompok. Konteks keragaman pemangku kepentingan ini menyebabkan perencanaan kota mau tidak mau memasuki ranah politik.

Conyers (1981) berpendapat bahwa pada dasarnya perencanaan tidak lain merupakan sebuah proses politik yang menimbulkan adanya persaingan antar kelompok. Oleh karena itu, kapasitas si perencana harus mampu bersifat dan bertindak obyektif dalam merekomendasikan solusi ketika terjadi perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan pemanfaatan ruang. Demokratisasi yang terjadi di Indonesia membawa sebuah perubahan besar dalam paradigma perencanaan di Indonesia dan saat ini reformasi tersebut tengah berlangsung dan belum menemukan arah yang tepat.

Perencanaan partisipatif adalah suatu kesepakatan tentang masa depan yang diinginkan, yang dirumuskan melalui suatu proses deliberatif dan konsensus bersama, bukan semata atas pertimbangan teknokratis dan akademis. Karena kita semua memahami, inti dari perencanaan adalah mengelola perbedaan dan konflik tentang bagaimana sumber daya ruang maupun uang yang terbatas bisa dimanfaatkan secara adil dan berkelanjutan. Maka dari itu suara berbagai kelompok selayaknya diberi tempat.

Salah satu pilar yang terus didorong perannya dalam upaya mewujudkan good governance di Indonesia adalah partisipasi. Tuntutan agar masyarakat menjadi subyek yang aktif dalam perencanaan (planning by, not planning for) dan mitra atau partner pemerintah dalam penataan ruang merupakan hak yang dilindungi oleh Undang-undang. Dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang pasal 65 ayat 1 disebutkan bahwa penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan melibatkan peran masyarakat. Salah satunya adalah partisipasi masyarakat dalam penyusunan rencana tata ruang (psl 65 ayat 2 huruf a).

Menurut Solihin (2001), konsep partisipasi telah beralih dari sekedar kepedulian terhadap “penerima bantuan” atau “kaum tersisih” menuju ke suatu kepedulian dengan pelbagai bentuk keikutsertaan warga dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Oleh karena itu, setidaknya ada tiga substansi yang perlu dicermati dalam suatu proses perencanaan partisipatif, yaitu:

1. Hak dan tindakan masyarakat menyampaikan aspirasi, gagasan kebutuhan, kepentingan, dan tuntutan terhadap komunitas terdekatnya maupun kebijakan pemerintah

2. Ruang dan kapasitas masyarakat dalam mempengaruhi dan menentukan kebijakan serta terlibat aktif mengelola barang-barang publik

3. Kontrol masyarakat terhadap lingkungan dan komunitasnya maupun proses politik yang terkait dengan pemerintah.

Pengetahuan Politik dalam Perencanaan Partisipatif

Ilmu politik adalah cabang ilmu sosial yang membahas teori dan praktik politik serta deskripsi dan analisis sistem politik dan perilaku politik. Politik sendiri adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan dalam suatu Negara/daerah. Politik merupakan seni dan ilmu untuk memperoleh kekuasaan baik secara konstitusional maupun non-konstitutisional.

Dalam konteks kebijakan publik, politik dapat diartikan sebagai usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Oleh karena itu, politik sangat erat kaitannya dengan kepentingan (interest) dan keberpengaruhan (influence) dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada dalam satu negara/daerah. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa ada sebagian pandangan yang mengatakan bahwa politik itu kotor sehingga tidak sedikit perencana yang enggan mempelajari dan terlibat dalam dunia politik. Pencitraan politik seperti itu terbangun karena sepak terjang (sebagian) aktor politik yang seringkali berpikir dan bertindak seenaknya sendiri dan rakus sehingga memberikan kesan kotor. Padahal sebenarnya politik sama dengan bidang-bidang lain dalam kehidupan manusia.

Politik, dalam pandangan Raghavan Iyeh, tidak hanya bicara soal kekuasaan, tetapi berkaitan sangat erat dengan moralitas, impian, harapan dan ketakutan manusia, bahkan juga menyangkut cara hidup manusia. Jadi, politik berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengelola, menyusun maupun membuat kesepakatan dalam kerangka kehidupan bersama sebuah masyarakat. Aktifitas politik ditujukan untuk menciptakan dan melaksanakan pranata-pranata sosial dan normatif yang memungkinkan masyarakat manusia hidup dengan tertib, aman, tenteram dan sejahtera. Menurut Sasmita (2009), tidak hanya dibutuhkan sistem dan aturan main politik (konstitusi, undang-undang dan perangkat hukum yang lain) yang baik, tetapi juga dibutuhkan etika politik. Sejarah manusia sudah membuktikan bahwa ketika politik dijalankan tanpa etika, maka yang terjadi bukanlah kemaslahatan masyarakat umum, melainkan krisis keadilan, kemanusiaan dan ketentraman.

Ketika perencanaan dipandang sebagai sebuah alat dan metode dalam pengambilan keputusan dan tindakan publik, maka sudah pasti di sana ada muatan politik sehingga proses perencanaan partisipatif selalu sarat dengan aktifitas politik, namun jarang memiliki etika politik. Dominasi kelompok tertentu yang tidak terkontrol dalam proses pengambilan keputusan sering dijumpai dalam setiap pelaksanaan perencanaan. Sehingga tidak jarang, yang terjadi bukanlah kebersamaan, tetapi hegemoni satu kelompok atas kelompok lainnya. Hal inilah yang harus dihindari dan dapat dihindari apabila semua pihak memiliki etika politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s