Literature Review: If Perencanaan is Everything, Maybe it’s Nothing

Perencanaan sebagai Kontrol Masa Depan

Penilaian pelaksanaan suatu rencana dapat dilihat dari dugaan sifat yang dimilikinya dan dugaan ini biasanya berubah tergantung definisi yang dipakai. Perencanaan adalah usaha untuk mengontrol hasil dari perbuatan kita, atau dengan kata lain adalah kemampuan untuk mengontrol masa depan melalui perbuatan pada masa kini. Kita harus dapat membedakan usaha perencanaan dan kesuksesan yang sebenarnya dalam rencana. Usaha dimana rencana dipraktekkan harus berdasarkan dugaan apakah dan pada tingkat apa kontrol masa depan dapat dicapai.

Rencana formal adalah salah satu manifestasi yang mungkin dalam rencana dimana rencana biasanya bukan merupakan suatu organisasi rencana formal. Mungkin keberadaan dari suatu rencana formal adalah untuk menghasilkan komitmen lebih terhadap tujuan dalam rencana yang diharapkan dalam keadaan kurangnya dokumen publik yang visible.

Kita tentunya mengharapkan definisi rencana yang dapat memungkinkan kita untuk membandingkan efesiensi dari berbagai cara dari mendapatkan kontrol masa depan, dimana kita dapat mengatakan satu rencana lebih baik dari yg lain. Rencana sering digunakan seakan-akan itu adalah hal yang rasional.

Pada akhirnya, marilah kita menyadari lagi apakah yang terkait dalam pernyataan mengenai rencana yang dibuat oleh praktisi dan peneliti merupakan sesuatu yang sama. Secara visual semua orang akan menyadari bahwa rencana membutuhkan : spesifikasi objek masa depan, dan seperangkat aksi terkait yang kontinu dan didesain untuk mencapainya. Kita sekarang dapat mencoba mencari apakah yang diperlukan oleh rencana nasional pada umumnya.

Perencanaan sebagai Alasan

Kita dapat mengatakan bahwa syarat utama perencanaan nasional adalah alasan pengetahuan : keberadaan teori dan beberapa bukti yang mendukung pada suatu keterkaitan sebab. Jika berbagai aksi dilakukan tanpa dapat menjabarkan konsekuensinya, maka yang terjadi adalah tujuan yang dibuat hanya berdasarkan kebetulan belaka. Keterkaitan yang dimaksud di atas dapat dibagi menjadi Interaksi antara elemen peraturan itu sendiri, Insentif untuk orang – orang terkait untuk menangani peraturan atau mekanisme pemenuhan, serta sumber daya yang cukup pada saat diperlukan. Kekurangan teori yang ada menjadikan seseorang sering tidak mengetahui jenis informasi apa yang harus diperoleh dan pada saat kapan ia harus dilaksanakan.

Pengetahuan sebab akibat juga penting untuk mengaitkan peraturan dari periode waktu tertentu terhadap perubahan ekonomi dan politik pada suatu negara. Karena itulah rencana, sebagai alasan sosial yang membutuhkan pengetahuan sebab akibat dan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut secara efektif dalam suatu masyarakat.

Perencanaan sebagai Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemungkinan untuk mengubah suatu kebiasaan dari lawan. Perencanaan mencerminkan kekuasaan yang mengarah pada perencanaan adalah bagian dari politik. Kekuasaan adalah hubungan timbal balik, yang bergantung pada apa yang dapat dilakukan seseorang atau bagaimana orang lain yang terkait dapat bereaksi. Kekuasaan harus dilihat dari sudut pandang sosial.

Perencanaan membutuhkan kekuasaan untuk dapat menjaga keunggulan tujuan masa depan pada saat ini. Seringkali perencanaan dianggap sebagai lawan politik dalam mengontrol suatu kekuasaan antara pemerintah dan pihak swasta. Pengalaman yang didapat oleh perencana formal menjadi luas dan berwarna, kesuksesan suatu rencana bergantung pada tujuan serta bagaimana tindakan menghadapi perubahan situasi, selain itu diperlukan pembelajaran, penyesuaian, adaptasi yang merupakan kunci kesuksesan.

Perencanaan sebagai Adaptasi

Salah satu cara menentukan tujuan adalah dengan meramalkan trend saat ini. Tujuannya adalah untuk mempelajari komunitas di masa mendatang. Tidak ada aturan baku yang kita terapkan dalam perencanaan, tetapi untuk mengarahkan tujuan biasanya dipakai aturan efesiensi sumber daya, serta produktivitas untuk meminimalkan biaya. Perencana juga harus menghubungkan tujuan dengan cara menuju kapabilitas suatu negara. Selain itu pera pemimpin negara juga harus mengetahui level perencanaan yang sesuai dengan tujuan.

Adaptasi terhadap berbagai situasi merupakan sifat bagi setiap orang. Ketika perencanaan ditempatkan dalam konteks pekiraan yang berlarut-larut maka sulit untuk mencapai kemajuan. dengan membuat perencanaan menjadi beralasan, dan terpisah dari proses pengambilan keputusan yang didesain untuk menjadi pengganti. Dalam kriteria adaptasi, hampir seluruh proses pembuatan keputusan adalah konteks sosial dan dapat dikategorikan sebagai perencanaan.

Perencanaan sebagai Proses

Seseorang tidak dapat membicarakan demokrasi tanpa menggunakan terminologi tujuan, alternatif, penilaian, dan keputusan yang juga merupakan bagian dari rencana. Hal ini membuktikan bahwa demokrasi dapat dikategorikan sebagai model perencanaan. Perencanaan dan demokrasi merupakan proses pembuatan keputusan.Perbandingan serupa juga dapat dibuat antara proses rencana dan proses legislasi serta administrasi. Hal ini dilihat dari bagaimana suatu peraturan publik dibuat, memiliki tahapan yang mirip dengan rencana. Ketika perencanaan dianggap sebagai perilaku pencapaian tujuan, maka hampir seluruh proses pembuatan keputusan mengandung elemen yang sama. Jika perencanaan dapat dinilai dari hasilnya, apa yang telah diakibatkan, kita harus merujuk kembali pada masalah hubungan sebab akibat. Evaluasi dalam perencanaan hanya memungkinkan apabila perencanaan dimaksudkan sebagai suatu rencana aksi yang komplit untuk mencapai tujuan sehingga derajat kesuksesannya dapat terukur.

Perencanaan sebagai Penemuan

Perencanaan sebagai tujuan merupakan manifestasi dalam rencana nasional. Kriteria dalam tujuan rencana belum jelas karena belum dapat dibuktikan keberhasilannya. Untuk mempermudah penjelasan kegagalan lebih baik melihat rencana sebagai suatu serial prediksi tujuan. Jadi untuk tercapainya tujuan dalam perencanaan , maka perencana harus dapat merumuskan suatu kebijakan yang sistematik, efisiensi, kordinasi, konsisten, dan rasional.

Perencanaan sebagai Rasionalitas

Beberapa kata kunci yang sering muncul dalam kriteria perencanaan yang baik antara lain adalah sistematis, efisien, terkoordinasi, konsisten dan yang terpenting adalah rasional. Arti penting dari sistematis adalah memiliki kualitas seperti sistem, dimana setiap seri variabel yang berinteraksi diketahui dan dimana output dapat diprediksikan berdasarkan input. Karena itulah dengan kata lain, untuk teori dan model yang dijelaskan dan kejadian yang diprediksi dalam dunia nyata akan terjadi dapat dimanipulasi. Pada zaman modern seperti saat ini, kebanyakan orang percaya bahwa tujuan harus dicapai dengan biaya yang sesedikit mungkin.

Tetapi efesiensi yang seperti apa ? dan untuk siapa? Ada tujuan yang tidak memerlukan efesiensi saja, karena itu efesiensi sangat terkait dengan tujuan. Tekanan pada efesiensi diasumsikan bahwa tujuan yang ada telah disetujui tanpa ada konflik tentang tujuan itu sendiri. Koordinasi merupakan hal yang penting dalam perencanaan, peraturan haruslah terkoordinasi satu sama lain. Ketika sumber daya disediakanoleh beberapa aktor, maka diperlukan koordinasi sehingga menjadi efisien.

Koordinasi kemudian dikaitkan dengan efisiensi, dimana jika terdapat koordinasi dapat mencegah beberapa hal yang merugikan seperti duplikasi, pengerjaan suatu hal yang sama dan kelebihan. Dengan adanya koordinasi berarti kita mendapatkan keuntungan lain seperti efesiensi, kepercayaan, izin, dan penggunaan. Konsisten dapat berarti horizontal dan vertikal. Konsistensi vertikal membutuhkan peraturan yang sama untuk dijalankan, konsistensi horizontal berarti keterkaitan dengan situasi yang eksisting lain. Konsistensi tidak selalu kompatibel dengan adaptasi, hasil dari tidak adanya konsistensi tidak akan berpengaruh besar selama terdpat alternatif pelaksanaan yang diperiksa melalui setiap cara pandang keputusan. Alternatif yang ada perlu disadari, alternatif yang mana? Berapa banyak ? Jawabannya tergantung pada keahlian perencana dan pengetahuan hambatan yang ada.

Alternatif yang terpilih adalah yang dipercaya akan peling sesuai dengan kondisi eksisting dan yang bekerja paling efisien. Alternatif, adalah suatu cara untuk menyarankan bahwa ada sesuatu yang lebih baik tanpa harus mengatakannya secara eksplisit. Rasional berarti mendapatkan tujuan utama dengan cara yang optimal., jika merujuk pada efisiensi adalah aturan untuk mengeluarkan usaha sesedikit mungkin. Tujuan rasional akan didapat dengan mengusahakan cara yang sistematis, efisien, konsisten dan lain-lain.Kunci utama rencana adalah harus mengeluarkan tujuan, menyadari pilihan alternatif, mendapatkan pengetahuan, melatih kekuasaan, mendapatkan izin atau menjadi fleksibel.

Perencanaan di Negara Kaya

Kemungkinan kegagalan perencanaan ekonomi formal pada negara kaya telah disembunyikan oleh kemakmuran mereka. Perdebatan panjang dalam perencanaan ekonomi telah menghasilkan suatu dikotomi yaitu individu versus pemerintah. Pertanyaannya adalah apakah perencanaan pusat dapat mengakomodasikan kepentingan pribadi? Kontrol masa depan yang dilakukan adalah dengan menggunakan pengetahuan, kekuasaan dan sumber daya melalui masyarakat. Karena itu, pertanyaannya adalah bagaimana perencanaan dapat menjadi solusi permasalahan ? atau hanyalah erupakan suatu cara untuk mengulang permasalahan yang tidak diketahui permasalahannya. Jika perencanaan bukan merupakan alasan, maka hal itu bukan merupakan masalah.

Perencanaan Formal : Biaya dan Keuntungan

Perencana seringkali juga merupakan seorang ahli ekonomi yang percaya bahwa segala sesuatunya membutuhkan biaya. Rencana dapat menghasilkan pengganti dari suatu pelaksanaan. Perencanaan membutuhkan sumber daya manusia, dimana bakat diperlukan. Biaya langsung suatu rencana adalah membayar para perencana dan konsultan, yang kemungkinan tidak mmbutuhkan biaya yang besar, tetapi biaya jangka panjang untuk negara mungkin akan sangat besar. Investasi akan timbul pada paket besar atau dalam jumlah yang kecil, dalam pengembangan sumber daya manusia atau pada proyek tertentu. Investasi dalam perencanaan adalah suatu model yang besar, seringkali merupakan model yang kompleks.

Perencana melaksanakan dengan mengetahui kebutuhan masa depan menggunakan keputusan masa kini. Perencanaan formal akan berguna sebagai jalan keluar bagi permasalahan yang tidak teratasi pada masa kini. Perencanaan formal menyarankan agar kita dapat melihat kembali rencana, perencana dan komisi perencanaan untuk dapat memanifestasikan fungsi, dan tujuan yang harus dilayani. Perencanaan sebagai suatu keyakinan Kepercayaan terhadap perencanaan memiliki keterkaitan dengan pemimpin politik. Tugas dari proses tujuan terkait dengan kondisi sosial yang seharusnya menjadi kebenaran universal bukan sebagai subjek untuk percobaan suatu pengalaman. Perencanaan membutuhkan sumber daya, pengetahuan, kekuasaan dari setiap orang. Ketika perencanaan dilihat sebagai fungsi untuk mengontrol masa depan suatu komunitas, kita sebaiknya menjelaskan kesulitan yang akan dihadapi perencana. Bagaimanapun perencanaan formal masih sulit beradaptasi, karena itu rencana perlu mempertimbangkan banyak hal.

Analisis

Menurut penulis jurnal tersebut, para perencana saat ini menjadi terlalu fokus atau tidak fokus sama sekali terhadap rencana, dan sering kehilangan orientasi akibat terlalu berlarut-larut dalam rencana. Seringkali rencana dikaitkan dengan politik, ekonomi, sosial dan berbagai isyu lainnya. Rencana didefinisikan menjadi banyak arahan yang rumit sehingga bentuk awalnya seringkali sudah tidak terlihat lagi. Rencana tidak dapat diterjemahkan menjadi suatu dimensi tertentu karena maknanya yang luas. Konsep rencana sendiri adalah antara pengguna / aktor dengan masyarakat / komunitasnya, yang mengkondisikan bagaimana mengatasi permasalahan dan menyediakan pilihan solusi. Pengertian dari rencana membantu mereka untuk memilih pertanyaan apa yang akan mereka tanyakan, dan untuk menjawab apa yang mereka temukan. Dan mengarahkan mereka untuk dapat mengevaluasi pengalaman mereka termasuk usaha perencanaan. Hal yang seringkali terjadi adalah rencana mulai dicobakan untuk mengubah lingkungan dan berakhir dengan terserap dalam lingkungan itu sendiri, kebanyakan kegagalan ini terjadi di negara miskin. Hal ini dapat terjadi karena usaha rasional untuk mencegah masa depan yang buruk dengan usaha pada saat ini. Bagaimanapun kegagalan dalam rencana bukanlah kecelakaan akan tetapi dapat dilihat dari sifat dasarnya, misalnya lingkungan yang tidak berfungsi. Dengan mengetahui berbagai pengertian dan masing-masing ciri dari rencana, kita dapat lebih memahami alasan membuat rencana, tujuan dari rencana yang akan dibuat dan menyesuaikan rencana dengan keadaan berdasarkan pengertian yang mana yang akan dibangun dalam menghadapi kasus. Perencanaan dapat saja memiliki beberapa pengertian yang berbeda, tergantung dari permasalahan apa yang ingin diselesaikan. Pemahaman mengenai berbagai pengertian inilah yang akan mencegah kita membuang waktu dalam rencana dan terjebak dalam pembuatan rencana itu sendiri

Daftar Pustaka

Wildavsky, A. 1973. If Planning is Everything, It May Be Nothing. Policy Sciences. Amsterdam : Elsevior Scientific Publishing Company.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s