Syair Keluh dan Harapan

ditulis tahun 2011

Untukmu Ibu Pertiwi

Kau kenal aku Ibu sejak aku menyanyikan tangis pertamaku di dunia ini. Kau kenal aku sejak aku aku menghirup udara yang kau sediakan untukku. Kau letakkan asa saat kuinjakkan kakiku di tanah air ini. Kau tudungkan cita-cita saat aku menatap indah sawah, danau, sungaimu. Ku nikmati kau ibu. Kau temani aku burtumbuh di rumahmu, Indonesia.

Ibu, beranjak dewasa kau kalungkan aku merah-putih bangsa. Niatmu agar aku belajar arti perjuangan bangsaku. Sudah ibu. Aku paham.

Ibu,  cerita panjangmu sudah mulai aku simak. Tahun ’45 resmi tanah dan air ini berbentuk negara, meski masih jalan panjang untuk mempertahankannya. Sudah aku kenal generasi yang memperjuangkan kemerdekaan ini. Walaupun sebagian. Bangga ibu, aku punya pendahulu yang gigih, tegar, dan punya hati serta visi. Andai aku sempat mendapat didikan dari mereka. Andai aku sempat mendengar cerita mereka. Tapi tak apalah pertiwi, aku mengenang dan mengagumi mereka. Walau hayat mereka sudah satu dengan tanah air ini.

Pertiwi, aku sadar darah sudah tercurah dalam setiap waktu yang bisa kau ingat dan jalani. Darah para anak bangsa dalam perang untuk merdeka dari penjajah sampai darah anak bangsa oleh saudaranya sendiri oleh karena perbedaan.

Pertiwi, aku sudah lelah akan sikap mental akan anakmu yang duduk di pemerintahan. Berkuasa bak raja,tapi mengemis untuk berlembar uang haram. Sengsarakan saudaranya tak jadi soal, asal anak cucu hidup mewah. Ah, andaikan semangat revolusi 1998 ada di dada semua anakmu mahasiswa. Kobaran api perjuangan akan kami besarkan.

Memang masa perjuangannya terlalu singkat,. Tapi masa perjuangannya ditumpahkan dalam pergulatan batin, wawasan dan cakrawala pikirannya yang luas semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme serta kecerdasannya tidaklah sependek waktu perjuangan yang dipersembahkannya untuk ibu pertiwi.

Pertiwi, Generasi berikutnya, eksploitasi

Generasi berikutnya, macan ompong,

Generasi keluh kesah

Generasi berikutnya, generasi harapan. Harapan untuk ibu pertiwi, jadi pandu ibuku, doamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s