Sejenak Di Tapal Batas

Oleh Efraim S, ditulis kala di Merauke

Udara menyengat langsung menyambutku begitu turun dari pesawat. Berdasarkan laporan dari kapten pesawat, suhu udara berkirsar 32 0 C. Daerah ini menjadi tempat terjauh yang saat ini aku kunjungi. Saat ini saya berkesempatan untuk melihat Merauke.

Sebuah kesempatan yang tidak terkira ketika pada akhirnya aku bisa sampai di tanah paling timur di Indonesia, Papua. Sebuah kesempatan untuk melihat keragaman dan kebinekaan Indonesia sekaligus untuk menumpuk rasa geram terhadap pemerintah pusat.

Kesempatan untuk melihat keragaman Indonesia karena aku bukanlah secara fisik sama dengan mereka. Kebhinekaan yang sangat terasa namun tetap dalam satu Indonesia. Fisik, bahasa, adat istiadat, alam memang berbeda, jelas berbeda. Namun sangat terasa keramahan yang mereka tunjukkan. Aku memang langsung dilayani seperti seseorang yang penting meski aku seorang yang muda (karena aku membawa surat tugas nasional)

Geram untuk melihat status dan perlakuan pembangunan yang dialami daerah ini. Membuat mereka sungguh menjadi daerah tertinggal. Aku bingung dengan kekayaan yang besar yang tak terolah.

Guyon : orang Jakarta membangun jembatan di atas jalan, padahal kita bangun jembatan di atas sungai dan lembah.

Tidak ada sarana telekomunikasi yang memadai di perbatasan. Orang menggunakan alat elektronik handphone dengan fungsi pelengkapnya saja, sebagai alat pemutar music. Fungsi utamanya hanya terpakai ketika berada di kota saja.

Merauke sebagai Indonesia Mini, bukan Jakarta. Kenapa? Sebab Jakarta menawarkan yang tidak dimiliki sebagian besar wilayah lainnya, tetapi Merauke menawarkan kondisi yang dimiliki oleh hamper setiap wilayah Indonesia. Wilayah yang masih baru tumbuh, sedang menuju kegairahan untuk bergerak cepat, namun masih diterpa oleh ketidakadilan pembangunan dan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang belum diolah secara maksimal. Merauke juga sebagai pintu gerbang masuk untuk Negara lain.

Berjalan-jalan menimati sore di tanah papua ini cukup nikmat. Udara yang hangat dan cahaya matahari yang tampak kemerah-merahan mengiri laju sepeda motor.

Jika kita perhatikan bahwa mobil-mobil yang ada di sini cukup mahal dan banyak berjenis jeep. Jika dilihat secara sekilas, kita akan menganggap gaya hidup mereka mewah dan boros, ternyata tidak semuanya begitu. Bentuk morfologi daerah mereka yang memaksa mereka menggunakan kendaraan tersebut. Banyak jalan yang menuju daerah-daerah terpencil masih tanah, dan sangat terjal dan sangat berbahaya khususnya pada musim hujan.

Satu yang kusuka dari kota ini adalah semboyannya. Izakod Bekai, Izakod kai, satu hati, satu tujuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s