Pendidikan Untuk Dasar Pembangunan

ditulis Fbruari tahun 2011

Dalam penilaian kualitas pembangunan manusia, digunakan sebuah pengukuran yaitu Indek Pembangunan Manusia (IPM). IPM dinyatakan dalam tiga aspek pertumbuhan; kesehatan, melek huruf dan gabungan kombinasi pendidikan dasar, menengah, atas—yang mewakili pendidikan, dan Produk Domestik Bruto—yang mewakili tingkat kesejahteraan ekonomi. Pada tahun 2007 IPM Indonesia adalah 0, 7341. Indonesia berada pada peringkat 108 sedunia dan masih dibawah Vietnam. Penilaian tersebut diantaranya usia harapan hidup menempatkan Indonesia pada posisi ke-100. Tingkat pendaftaran di sekolah dasar, lanjutan dan tinggi ada di urutan 110. Sedangkan untuk Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita berada di posisi 113. Namun angka-angka tersebut belum menunjukkan kondisi yang sebenarnya dari pembangunan kita. Masih terlalu banyak paradoks yang ada dalam pembangunan secara nyata dengan angka yang muncul untuk menyatakan itu.

Pembangunan Ekonomi dan Kesehatan

Masih teringat kita pada awal tahun 2011 yang lalu, salah seorang menteri di Pemerintahan saat ini mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4 %, nilai inflasi 5 % (+/- 1 %), investasi sekitar 1000 triliun, anggaran untuk jaring pengaman sosial besar (ratusan triliun), pendapatan per kapita sekitar US$ 2.800, kemiskinan turun menjadi 13,3 juta jiwa. Beliau juga menyebutkan posisi Indonesia di forum G20 di posisi ke-20 dan juga mengutip Goldman Sach, posisi ekonomi Indonesia pada tahun 2025 nanti di posisi ke-7 dunia. Tahun 2014 nanti target income per kapita nasional naik ke angka US$ 4500 (penghasilan di Indonesia sekitar Rp. 40.000.000 per jiwa per tahun)2. Sontak banyak orang kaget akan angka yang menakjubkan ini.

Orang bingung untuk menerima pernyataan itu sembari melihat ke sisi lain tentang kemiskinan negara ini. Menurut beberapa pakar, standar kemiskinan di Indonesia mengacu pada standar Bank Dunia, yaitu penghasilan per hari di bawah US$ 2 (atau sekitar Rp. 18.000,- per hari). Berdasarkan data, yang masuk ke kategori itu bisa mencapai 50 % jumlah penduduk, bukan 13, 3 juta. Jumlah 13,3 juta jiwa hanya karena standar kemiskinan Pemerintah sangat menyedihkan. Orang miskin dianggap siapa saja dengan penghasilan seharinya kurang dari US$ 1 (Dengan penghasilan Rp. 9 ribu sehari (atau penghasilan Rp. 270.000/bulan). Persen pertumbuhan ekonomi nasional tak cerminkan nyata nikmat rakyat atas angka ekonomi tersebut. Pejabat negara kitapun diminta lebih realistis menilai dan menyimpulkan pertumbuhan ekonomi.

Setali tiga uang dengan ekonomi, begitu kondisi sektor kesehatan. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2008, tahun 1960 harapan hidup penduduk Indonesia adalah 40 tahun. Kini, setidaknya rata-rata sampai usia 69 tahun. Namun, lebih lama hidup, benarkah lebih sejahtera? Berdasarkan Riset Kesehatan dasar 2007, prevelensi nasional gizi buruk pada anak balita adalah 5, 4 persen dan gizi kurang pada anak balita adalah 13 persen. Artinya, ada dua dari 10 anak Indonesia mengalami gizi buruk atau kurang. Lebih dari akan pemahaman orang tua kan gizi buruk, faktor ketidakmampuan menyediakan makanan umumnya menjadi masalah. Hal ini erat hubungannya dengan kemiskinan dan ketersediaan pangan.

Selain itu, industrialisasi kesehatan juga sangat terlihat belakangan ini. Di kota-kota besar rumah sakit bertaraf internasional menjamur sementara di kota-kota kecil dokter pun terkadang sulit didapatkan. Laksono Trisnantoro, Direktur Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM pernah menyebutkan, saat ini, di seluruh Provinsi Nua Tenggara Timur tidak ada dokter spesialis anestesi. Bisa dibayangkan kualitas dari kesehatan di daerah tersebut, jika seseorang harus dioperasi tanpa adanya dokter anestesi. Mungkin sentilan orang miskin dilarang sakit sepertinya masih lama bergaung di negeri ini. Sistem kesehatan yang menjamin kesehatan bagi seluruh warganya belum bisa terpenuhi.

Pendidikan Kita

Namun, diantara ketiga Indeks Pembangunan Manusia, yang perlu mendapat perhatian lebih adalah sektor pendidikan. Semua pemahaman akan ekonomi dan kesehatan yang lebih baik didapat ketika masyarakat mampu berpola pikir yang lebih baik. Model dari peraih nobel ekonomi 2010 menunjukkan hal yang sama. Model yang mereka sebut sebagai model friksi melihat kenapa banyaknya kemiskinan di Indonesia3. Mengapa banyak orang miskin di Indonesia? Teori friksi bisa menjelaskannya, yakni karena sistem pendidikan tidak pas dan semakin tidak terjangkau oleh orang miskin, yang status sosialnya (ekonomi dan kesehatan) sebenarnya bisa naik lewat  pendidikan.

Pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan dengan 11 juta anak SD tidak pernah sekolah, 4.370.492 anak putus SD, dan 18.296.332 anak putus SMP. Pola evaluasi tahap akhir yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan juga tidak menunjukkan kualitas siswa dan sekolah. Sistem evaluasi yang hanya membuat sekolah berlomba untuk meluluskan siswanya sebanyak mungkin membuat cara-cara tak berpendidikan pun ditempuh.

Menerawang kembali ke masa penjajahan ketika Ki Hajar Dewantara mendirikan taman siswa. Beliau yang pertama kali sadar tentang sistem sekolah formal Hindia-Belanda sebagai belalai-belalai penghisapan ikan tinta kapitalisme dan kolonialisme. Dengan konsisten beliau mendirikan taman siswa yang mengintegrasikan unsur-unsur formal model barat, dengan segi-segi nonformal dan informal pribumi; yang ternyata berhasil membenihkan sekian banyak pemimpin nasional yang tahu bertindak konkret pada tahun 1940-19504. Bila kita ingat mengenai pendidikan ala Belanda, bahwa guru-guru tidak hanya mengajar matematika atau konstruksi beton utuk kepentingan kolonial, tetapi mengajar murid untuk observatif obyektif berpikir dan beranalisis secara benar, menari kesimpulan secara kritis dan sistematis. Sebuah kemunduran besar jika mengingat bahwa pada zaman penjajahan Belanda para siswa Sekolah Rakyat (SR) diharuskan membaca beberapa bacaan wajib namun sekarang tidak. Kita diajari membaca, tapi tidak dibuat menyenangi baca.

Pendidikan seorang manusia adalah sebuah sistem kompleksitas tersendiri yang tersimpan dalam pola kognitif masyarakat yang terejawantahkan secara populis dalam cerminan budaya. Persekolahan harus menjadi ajang kaderisasi bagi pengembangan masyarakat. Ia menjadi pilar-pilar kemajuan masyarakat. Namun, pendidikan Indonesia memiliki kecendrungan yang berbeda saat ini. Sekolah seolah terpisah dari realitas sosial. Siswa tidak lagi memahami fisika sebagaimana Newton memahaminya, namun memahaminya sebagai kumpulan rumus untuk meluluskannya dalam ujian. Memahami matematika sebagai alat untuk menuliskan angka bukan sebagai ilmu logika. Dan sekolah hanya menjadi rutinitas, rutinitas mencetak ijasah, rutinitas tugas, praktikum, sementara apa yang didiskusikan, dipraktikumkan, menjadi lembaran terpisah dari kehidupan sehari-hari. Menjamurnya lembaga bimbingan belajar hanyalah dampak dari ketidakmampuan sekolah untuk mendidik siswanya. Dan agar bisa bersaing dengan lembaga bimbingan belajar, sekolah pun tak ubah menjadi lembaga bimbingan belajar.

Ada baiknya kita simak kegelisahan Rendra dalam potongan sajak Seonggok Jagung mengenai keprihatinan dunia pendidikan kita :

Aku bertanya :

Apakah gunanya pendidikan

Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

Di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya pendidikan

Bila hanya mendorong seseorang

 menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang

Belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,

Atau apa saja,

Bila pada akhirnya,

Ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“ Di sini aku merasa asing dan sepi  ”    

Pembangunan Pendidikan Awal Pembangunan Lainnya

Pendidikan adalah inti dan perwujudan paling nyata dari Wawasan Nusantara. Ia berkenaan dengan pembangunan abstraksi tentang bagaimana seorang individu Indonesia memandang dirinya sendiri dan bangsanya, di tengah kehidupan masyarakat lokal, nasional, maupun internasional. Pendidikan dalam defenisi umum sepantasnya menciptakan manusia Indonesia yang berkesadaran nasional. Citra masyarakat hari esok ditentukan oleh refleksi pendidikan hari ini, sama seperti apa yang terlihat hari ini adalah apa yang ditabur di masa silam.

Sudah 65 tahun Indonesia merdeka seharusnya orang seperti Butet Manurung tidak perlu ada, program Indonesia Mengajar tidak ada, dan lembaga Air Mata Guru tidak pernah muncul kalau Indonesia sudah mengerti arti pendidikan. Tapi, selama Indonesia belum pernah adil dan mengerti, maka pejuang-pejuang seperti itu yang harus kita hidupkan lebih banyak lagi.

Mari, benahi sistem pendidikan kita yang lebih memanusiakan manusia Indonesia. Mari kita ubah paradigma Manusia Indonesia yang mungkin tergambar dari pidato Muchtar Lubis—menjelaskan 6 sifat manusia Indonesia,dan hanya 1 yang bernada positif 5. Mari para kaum intelektual muda jadilah pendidik. Menjadi pendidik bukan harus berstatus guru, dosen, atau tutor. Menjadi pendidik adalah tanggung jawab intelektual kita untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Catatan :

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Pembangunan_Manusia
  2. http://www.Pustaka LANGIT BIRU.htm
  3. Kompas, 13 Oktober 2010
  4. Y. B. Mangungwijaya. Impian dari Yogyakarta. Kompas. 2003
  5. Mochtar Lubis.Manusia Indonesia.Yayasan Obor Indonesia. 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s