Mencari Gie Kristen

ditulis tahun 2009

Soe Hok Gie, saat ini tak lagi menjadi sosok yang dikenal luas, bahkan di kalangan pemuda terpelajar Indonesia. Nama Gie kini mungkin hanya akrab di telinga segelintir orang saja. Soe Hok Gie adalah seorang pemuda keturunan Tiong Hoa yang lahir pada 17 Desember 1942; anak keempat dari lima bersaudara pasangan Soe Lie Pit —alias Salam Sustrawan, seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Ia bukanlah aktivis mahasiswa biasa. Ia istimewa: cakrawala pemikirannya visioner, militansinya nyaris tanpa batas, komitmennya kukuh pada prinsip-prinsip demokrasi dan humanisme universal. Karakter demikianlah yang menobatkannya sebagai intelektual dan humanis sejati, sekaligus pendobrak tirani ORLA.

Apa yang bisa diteladani dari oleh pemuda masa kini dari sosok Gie? Banyak. Ia orang yang sangat kritis terhadap korupnya pemerintah. Ia memiliki idealisme kebangsaan sejati. Ia mencintai rakyak jelata. Ia seorang yang mencintai alam negerinya. Dalam tiap hal dan masalah, ia menjadi batu penguji yang kokoh untuk sikap berani yang independen, hati bersih dan pikiran murni. Ia tak kenal kompromi, kritis kepada kelaliman, memiliki hati nurani untuk masyarakat kecil dan cinta pada alamnya.

Sebagai pecinta alam, Gie mempunyai hobi naik gunung. Ia percaya kecintaan terhadap bangsa dan tanah air dibangun dari kedekatan terhadap alam dan masyarakatnya. Dalam buku hariannya, ia menuliskan faedah naik gunung bagi dirinya. “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”( Gie, Catatan Seorang Demonstran). Sikap mencintai alam ini lagi ditunjukkan oleh pemuda Indonesia masa kini. Kita lebih senang bergaul dengan pusat perbelanjaan dan pusat hiburan dibanding menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air lewat kegiatan-kegiatan pecinta alam.

Jakob Utama menulis tentang Gie, “ …di tengah krisis rasa keadilan hilangnya rasa malu dan gencarnya semangat menggugat hukum saat ini, sosok Soe Hok Gie pantas ditampilkan”. Benar. Pemuda Indonesia ­ butuh sosok teladan yang menunjukkan cara nyata untuk mencintai bangsa dan tanah air ini dengan murni. Pemuda Indonesia butuh keteladanan dari sosok yang berani menggugat  pemerintahan yang korup serta sesamanya mahasiswa yang telah jadi anak buah kekorupan. Tak hanya itu, pemuda kita butuh keteladanan untuk memberi kritik tajam kepada mereka yang hanya peduli diri sendiri dan tak peduli pada masyarakat kecil.

Kita—mahasiswa dan kaum muda—harusnya punya suara yang jujur dan bersih dari korup. Kita harus siap ditempah dalam kawah candradimuka ketidakadilan dan siap menjadi ksatria bagi bangsa ini. Sejarah mencatat bahwa kaum muda punya andil dalam membangun sejarah negara ini. Dan harusnya kaum muda juga bertanggung jawab dalam kebobrokan yang terjadi di negara ini. Kita tidak mungkin mengelak dengan berkata, “ Bukan kami pemuda yang ikut meruntuhkan orde lama, bukan kami juga yang ikut menjatuhkan orde baru, dan mungkin bukan kami juga yang memulai reformasi”. Kawan haruskah kita menjadi pengecut yang takut pada lintah rakyat?

Mungkin bukan kita yang tercatat sebagai penumbang dan pembasmi orde lama dan orde baru. Mungkin bukan kita juga yang memulai era reformasi. Tapi kita, pemuda sekarang bisa menciptakan sejarah baru, sejarah bangsa Indonesia yang bersih dari kebusukan. Pemuda yang membangun integritas dan kemandirian bangsa ini. Mari siapakan suara kita, laku kita dan gerakan kita.  Siapkan integritas dan kejujuran mu, hai…Pemuda Bangsa!

Gie, seorang pejuang rakyat kecil. Seorang cendekiawan yang—seperti kata Rendra–tidak berumah di awan. Ia tak hanya diperuntukkan menjadi konsumsi kalangan intelektual dan politik semata. Hatinya diperuntukkan untuk orang-orang kecil dan terjepit. Nuraninya selalu gelisah atas nama integritas; jiwanya telah yakin di jalannya untuk menjadi idealis sejati. Ia tak hanya asal militan, tapi selalu berpegang teguh pada prinsipnya sebagai  demokrat dan humanis sejati. Dia mati muda di pangkuan ibu pertiwi di kaki Gunung Semeru. Tukang peti mati yang belum pernah melihat sosoknya pun ikut menangisi kepergian Gie kala itu. Ia menjadi pribadi yang menyejukkan di tengah keringnya teladan dan integritas saat ini. Gie, pemuda dengan darah patriot itu, perlu kita cari lagi. Akankah kita temukan kembali sosok itu dalam diri pemuda kristen?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s