Program “TOEFL Tukang Bawa Koper”

Beberapa bulan lalu santer kita dengar pemberitaan tentang rencana dari Menteri Perdagangan baru untuk peningkatan kualitas pegawai kementerian perdagangan. Program itu adalah peningkatan skor TOEFL pegawai sampai di angka 600. Sontak media menjadikan ini lahapan berita. Betapa tidak, program dari menteri baru di kementerian yang termasuk strategis dalam pembangunan Negara justru test bahasa Inggris. Bisa dimaklumi, seorang lulusan AS seperti pak Gita menaruh minat pada kemampuan bahasa inggris dan memang kementerian yang dipegangnya saat ini memiliki ranah luar negeri juga. Semua pegawai diwajibkan ikut test dan akan mengikuti kursus bahasa inggris untuk meningkatkan kemampuannya. Namun, benarkah ini langkah strategis untuk kementrian perdagangan?

Peningkatan kualitas bahasa inggris untuk pegawai negeri memang penting dan bukan untuk kementerian perdagangan saja. Namun, langkah Pak Gita dari hemat saya cukup tidak strategis dan taktis. Inti kualitas kemampuan pegawai tidak cukup ditunjang dari kemampuan bahasa asing mereka, walau itu penting. Kemampuan dalam berpikir strategis dan taktis justru menjadi poin utama. Jika ditilik dari kinerja kementrian perdagangan, mungkin peningkatan kualitas pemahaman bahasa asing bukan jadi solusi. Program ini justru tampak sebagai kegiatan cari sensasi dan menghabiskan energi. Lupa bahwa ada isu perdagangan yang lebih penting untuk di ekspos, misal soal konflik perdagangan dengan petani garam lokal, atau isu perdaganan untuk wilayah Indonesia Timur yang masih simpang siur jauh dari ideal.

Memang, isu perdagangan yang cukup hangat adalah seringnya Indonesia kalah dalam negosiasi perdagangan luar negeri. Beberapa kegagalan ini membuat kehilangan beberapa potensi dagang. Namun, apakah yang butuhkan kemampuan bahasa? Atau justu yang diperlukan adalah kemampuan negosiasi. Jika kita telaah, TOEFL justru hanya menunjukkan kemampuan dalam mendengar dan menulis, tidak berbicara. Sementara itu dalam negoisasi yang dibutuhkan adalah kemampuan berbicara. Dan target skor yang dibuat sangat tinggi, 600.  Dan ketika tentang program ini, salah satu jawaban dari Pak Menteri adalah tukang bawa kopernya saja TOEFL nya 600, masa pegawai kemendag tidak bisa. Justru ini jawaban yang tidak berkaitan sama sekali. Kalau tukang bawa kopernya TOEFL nya 600, kenapa dia justru bawa koper? Kenapa tidak kerja sebagai penterjemah atau lainnya? Berarti kemampuan bahasa tidak diikuti kecerdasan berpikir tukang bawa kopernya Pak Menteri.

Kegiatan ini juga menghabiskan energi para pegawai. Bagaimana tidak, pikiran dan waktu awal tahun pegawai sibuk terfokus dalam persiapan test ini. Padahal Kementerian Perdagangan bukan kementerian dengan kerja ringan. Energi awal tahun bisa dipakai untuk mengevaluasi kinerja dan mencicil pekerjaan rumah kementerian. Juga program lanjutan dari test ini yaitu kursus bahasa cukup menyita waktu dan energi. Kursus ini ditujukan untuk meningkatkan TOEFL pegawai yang belum mencapai target. Namun, program ini juga harus adil bagi rakyat Indonesia yang menggaji pegawai kementerian. Program les ini harus tidak menyita jam kerja pegawai untuk mengurus perdagangan. Program ini harus ditempatkan di luar jam kerja pegawai. Artinya adalah pegawai akan kehilangan banyak waktu bebasnya, waktu untuk bersama keluarga dan bersosialisasi.

Tentunya ini tidak adil bagi pegawai yang sudah berkeluarga dan yang akan memasuki usia pensiun. Jika kebijakan ini memang dirasa penting tentunya bisa direncanakan lebih matang. Tidak harus semua pegawai ikut test dan kursusnya. Kegiatan ini bisa dibuat bergelombang. Gelombang pertama untuk pegawai di bagian yang bersinggungan dengan perdagangan luar negeri. Terkhusus untuk yang menangani negoisasi perlu ditambah kursus negoisasi.  Gelombang ke dua untuk mereka yang masih akan memiliki masa kerja 20 tahun lagi atau lebih. Gelombang ke dua ini akan diisi oleh orang-orang muda kementrian perdagangan. Gelombang ke dua ini juga perlu diberi tambahan kursus potensi akademik untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan kinerja. Gelombang ke tiga untuk mereka yang masa kerjanya sekitar 5 tahun lagi. Gelombang ini akan diikuti oleh pegawai yang akan memasuki masa pensiun. Gelombang ke tiga ini juga perlu diberi kursus dan pelatihan untuk menggunakan waktu pada masa pensiun. Gelombang ini tentunya masih produktif di usia sekitar 55 tahun. Mereka masih cukup produktif untuk memulai bisnis ataupun menjalani kegiatan lainnya. Tentunya bekal pelatihan akan sangat membantu mereka.

Untuk meneruskan trend kualitas bahasa inggris dari pegawai kemetrian perdagangan tidak perlu kegiatan mendadak seperti ini. Syarat pegawai yang akan masuk harusnya ditingkatkan. Dengan menerapkan standar TOEFL tertentu, maka akan mengurangi beban untuk kursus pegawai. Namun diatas kemampuan bahasa, kemampuan dalam berpikir strategis dan taktis harusnya menjadi prioritas utama, agar mereka yang punya TOEFL 600 tidak lagi sekedar menjadi pembawa tas.

2 thoughts on “Program “TOEFL Tukang Bawa Koper”

  1. Saya pribadi memang tidak terlalu mendalami seluk beluk kebijakan yang diambil oleh Pak Gita, namun menurut saya, seorang Gita Wiryawan tidak akan mengambil sebuah kebijakan, hanya karena : kemampuan TOEFL tukang angkat kopernya. Menurut saya pula, sebaiknya kita mengambil jarak dari media untuk mencari tahu motivasi sesungguhnya dari seorang Gita.

    Selain itu, benarkah ini menjadi ‘proyek utama?’ Atau media terlanjur memberitakannya sebagai proyek utama?

    Saya akan coba selidiki lebih dalam dan semoga ke depannya bisa berdiskusi lebih lanjut. Namun saran-saran yang anda paparkan, sudah baik adanya.

    Salam,

  2. Ya, gak mungkin dia ambil kebijakan itu karena tukang bawa tasnya, itu hanya tanggapan saya atas tanggapan dia. Toh itu saja alasannya di media massa, harusnya dia kasih penjelasan lah.
    Kemudian, saya tidak menyebutnya sebagai proyek utama, tapi program yang membuat pontang-panting pegawainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s