Konsumerisme Natal

Sudah menjadi fakta pada hari raya agama natal pola konsumsi kaum kristiani terus meningkat. Chrismasization1, sebuah istilah yang diperkenalkan seorang antropolog Amerika, Walter Armbrust tentang hal tersebut. Istilah ini muncul dari pengamatannya atas pola konsumsi masyarakat Barat yang meningkat tatkala natal tiba.

Konsumerisme, turunan dari kapitalisme, merambat dengan cepat dalam bingkai hari suci keagamaan. Konsumsi yang diharapkan dapat dikontrol melalui media perenungan akan makna natal justru semakin liar dan tak terkendali. Faktanya, dalam bulan ini segala penyedia jasa konsumsi (pertokoan, mal, dan restoran, dll) dengan dengan gencar merayu pembeli dengan iklan BIG SALE NATAL. Sialnya, kalangan gereja pun turut sibuk menyiapkan pesta.

Natal yang bertujuan untuk perenungan manusia akan KASIH, justru dibuat dengan logika terbalik menjadi pesta. Ini turut serta meningkatkan derajat nafsu konsumtif dan materialistik orang-orang yang merayakan. Tak urung, semua penikmatnya menyambutnya dengan sangat sukacita. Hari Natal memang sukacita. Sukacita ini pun terlampiaskan dalam gaya hidup berlebihan pada masa natal. Semua orang merasa lumrah dengan konsumsi meningkat tajam. Namun, ada harga yang harus dibayar dalam kesukaan ini, belanja untuk merayakan hari besar ini menjadi lebih utama dibanding menyiapkan hati menerima natal.

Faktor utama yang menyebabkan terjadinya proses Chrismasization adalah, secara internal, pemahaman yang dangkal atas makna dan hakikat natal. Kandang domba sebagai symbol kesederhanaan kini dihiasi dengan pernak-pernik dan lampu-lampu yang bewarna semarak.

Pemahaman sekarang sangat dangkal akan makna. Hal ini diperparah dengan serbuan informasi keagamaan yang bersifat instan dan tidak komprehensif dari media, terutama media elektronik seperti TV. Selama selang beberapa waktu, acara di TV dipenuhi dengan serangkaian acara yang bernuansa natal yang mungkin sesungguhnya miskin makna. Media ini menjadi pengasah interaksi relasi pembeli-penjual (perilaku konsumeristik). Hal ini secara halus menggelitik naluri konsumsi manusia.

Inilah bayangan semu yang menjadi keprihatinan di momen keagamaan ini, konsumsi yang berlebihan menjadi budaya massa ditengah kemiskinan yang melanda negeri ini. Sifat yang telah berurat nadi dalam jantung masyarakat dan menjadi kebiasaan. Lambat laun, natal mengalami pergeseran makna.

Chrismasization sebagai bentuk konsumerisme Natal seperti yang terjadi pada masyarakat Barat, telah berlangsung begitu lama serta berkesinambungan. Dalam hal ini , Natal dapat ditempatkan dalam semacam istilah Marxian, opium yang terus-terusan dicangkokkan dalam alam bawah sadar masyarakat melalui media. Natal direifikasi atau diasingkan karena direduksi oleh hukum ekonomi industri melalui simbol-simbolnya untuk kebutuhan pemuasan hasrat konsumsi masyarakat. Natal menjadi  sebuah musim libur baru dan iklan bisnis yang baik.

Paus Benediktus XVI pada Desember 2005 pernah menyerukan untuk membuat gua dirumah masing-masing2. “Gua natal di rumah jauh lebih sederhana dan sangat mengena untuk menanamkan iman kepada anak-anak,” kata Sri Paus. Paus juga mengecam adanya tren perayaan natal yang telah terkena polusi konsumerisme. Natal itu Yesus. Santa Klaus, pohon natal, pernak-pernik, pesta telah menjadi ikon utama dalam acara Natal dan menggantikan peran-Nya.

Mengambil istilah dari Neil Postman3, kegiatan semacam ini hanya untuk menghibur diri sampai mati. Natal sebagai sebuah panggung sandiwara dan sebuah karnaval sosial yang dangkal. Penyambutan yang begitu khidmat atas moment terkesan hanya merupakan kegiatan yang sangat rutin dan tak lebih menjadi ritual. Fenomena inilah yang tampak saat melihat natal diperlakukan sebagai teater.  Teater yang tatkala pertunjukan selesai dan panggungnya dibersihkan, maka usai pula kemeriahan dan ceritanya. Tatkala Natal usai, berakhir pula segala ritualitasnya dan kembali ke sedia kala.

Natal seharusnya menjadi media perenungan. Meminjam istilah al-Quran tentang Ramadhan, natal berhenti berfungsi sebatas syifa (obat), belum dilanjutkan sebagai hudan (petunjuk), ke arah peningkatan kualitas diri; baik secara vertikal maupun horizontal. Hendaknya kita kembali memaknai arti natal dalam hal yang sesungguhnya, kelahiran Raja dalam kesederhanaan dan penolakan manusia. Natal adalah perayaan iman akan Yesus yang lahir sangat sederhana dan miskin di sebuah gua kandang hewan di Bethlehem.

Selamat Hari Natal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s