Ku Lambai Cinta di Selasa Terakhir (2)

Masihkah maaf harus ku ucapkan kepada Manihar (Selasa Tanpa Alina) atas lembaran ini ?

Untukmu, putri dalam rindu

Hampir setiap saat aku berpindah dari penjara cemburu ke penjara rindu. Yang hampir setiap elegi malam terlantun, berharap angin mendamparkannya di risau mu.

Tak jelas memang,

Namun, setiap aku terkenang akan ruang itu, ingin ku lari dari malam yang mendatangkan Selasa di paginya.

Di taman yang sama, di detik-detik yang sama saat kau muncul. Semua hampir sama di setiap Selasa. Aku masih duduk di tempat yang sama dan menanti. Melihat mu berjalan di sisi yang sama. Kilas yang tetap sama, yang bisa ku pastikan dari jarak pandang terjauh mata manusia normal, sayangnya hari Selasa, tiang-tiang pembatas yang kokoh itu sedikit menghalangi sudut bidik ku.

Pagi itu jadi Selasa terakhir ruang sempit itu tercipta. Tak terasa sekian Selasa kulewati duduk di tempat yang hampir sama di jam yang hampir sama. Hahahahha,. Ruang sempit yang tercipta diantara kita. Ruang itu, yang dindingnya adalah batas angin bisa membawa pesan ini kepadamu. Ruang yang atapnya adalah langit kaku berisi mega menari yang jadi saksi abadi untuk kebodohanku dalam menantimu. Ruang yang lantainya adalah bumi yang tak bisa jadi penghantar rinduku padamu. Aku juga tidak tahu apakah kau mengerti apa ruang itu.

Memang, Selasa waktu buat ku menanti sudah cukup lama ada, tapi cuma dua selasa yang bisa kutuliskan. Saat selasa mulai kujalani dan saat selasa ini akan berakhir disini. Berharap, bukan Selasa lagi yang tercipta, tapi pertemuan tanpa hari.

Aku tak tahu kenapa aku duduk di sini. Menanti sepeti orang bodoh tanpa arti. Bahkan rindu itu pun sepertinya terpantul kembali padaku dan salam itu tak pernah sampai. Aku tak tahu, apa karena dinding itu yang mengembalikan dengan paksa salam itu atau hatimu yang memang tak mau menerima salam itu. Jawaban itu masih jadi misteri.

Terlalu pagi sempat gumamku untuk mencari jawabannya. Tapi mentari tak mendewasakan. Angin yang menderu yang mengokohkan. Tapi yang kubutuhkan sebuah bisikan. Agar ku tahu tuk berhenti atau berlari.

Berhenti kalau memang aku butuh istirahat atau untuk berbalik.
Berlari kalau aku tahu arahku.
Hanya kau yang bisa memberi bisikan itu.

Sempat terpikir untuk merekayasa perjumpaan. Sedikit rekayasa memang perlu karena kita anak teknik yang sudah diajari untuk merekayasa. Tapi sungguh, akalku tak bisa berkembang untuk merekayasa perjumpaan dengamu. Tak sanggup, rekayasa itu berbuah kekakuan.

Mencari celah sedetik diantara lautan elegi untuk mengungkap nyanyian rindu. Diantara bilah-bilah tiang pemisah yang menjadi jeruji diantara dua ruang, serta membujuk sang angin untuk menjadi caraka rindu. Bisikan burung pun menghibur Selasa sambil menari di daun pembatas.

Sempat ku berpikir bahwa ku murid Gibran, Karib dari Rendra, Sahabat dari Shakespeare. Ternyata ku hanya biasa yang sedang terperangkap dalam penjara rindu. Seperti Wolverine yang menanti sang kekasih yang berkunjung ke bulan, namun terperangkap dalam kelam.

Ku Lambai Cinta di Selasa Terakhir
Ku tunggu lambaian mu

-di tulis hari Selasa lagi-

ditulis 4 Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s