Satu Saja

“Memilih 30 diantara 100 saja sudah sulit, apalagi memilih satu”. Kalimat tersebut adalah kalimat yang terlintas di pikiran saya kemarin malam, tepatnya tanggal 25 Juli malam. Saat itu saya sedang melakukan seleksi judul buku untuk persiapan KNM 2010. Saat itu yang saya kerjakan adalah memilih sekitar 30 judul buku dari beberapa penerbit dan percetakan buku rohani. Buku-buku tersebut nantinya akan dijual di acara KNM 2010 sebagai bagian dari pencarian dana dan pemasaran buku untuk peserta. Buku-buku tersebut saya pilih dari katalog yang diberikan oleh penerbit yang memuat seratusan judul buku.

Saat memilah judul-judul buku tersebut banyak pemikiran-pemikiran yang terlintas di benak saya. Mulai dari minimnya nama penulis kristen Indonesia di jajaran buku yang direkomendasikan sampai hubungan memilih buku dengan memilih pasangan hidup. Namun yang sempat menanamkan imajinasi panjang dalam pikiran saya malam itu adalah apa hubungannya memilah judul buku dengan pasangan hidup. Mungkin disebabkan karena saya sedang mencari pasangan hidup juga .

Sebagai seorang yang—bisa saya bilang baru—memiliki minat baca, mengetahui sekilas tentang isi buku yang akan saya beli cukup penting menurutku. Sama seperti sebelum menonton film di bioskop, maka saya akan terlebih dahulu membaca ringkasan dari film tersebut dan membaca kritikan orang. Namun untuk kasus buku ini, malam itu saya bagai orang yang memilih kucing dalam karung. Bagaimana tidak, saya harus memilih sekitar 30 judul buku—jumlah yang kami putuskan untuk setiap penerbit—dari sekitar 100 judul tanpa punya pemahaman dari isi buku tersebut dan penulisnya. Prinsip—yang saya tuliskan juga di info akun Facebook saya—dont judge a book by it’s cover pun harus saya tinggalkan. Bagaimana tidak, karena ketidakpahaman saya tentang buku tersebut saya cendrung memilih judul yang ‘eye catching’ tanpa tahu isi buku dan penulis. Namun, terkadang saya juga memilih buku yang penulisnya sudah terkenal, walau kualitas bukunya belum tentu mantap yang kebanyakan adalah penulis dari luar Indonesia.

Jadi apa hubungannya dengan memilih teman hidup? Bayangkan susahnya untuk memilih satu dari semua pilihan yang ada—ini tidak berlaku tentunya untuk yang tidak punya pilihan…hahahaha, saya bercanda. Prinsip untuk menilai buku dari sampulnya mungkin harus dipegang teguh. Kita tidak memilih seseorang dari tampilan fisik semata. kita tidak juga memilih seseorang dari kesan pertama kita ketika melihatnya. Kita harusnya mengenal seseorang itu dari dalam dirinya, apa yang terkandung di hati dan pikirannya, yang dia lihat dari matanya, yang dia dengar dari kupingnya, yang dia rasakan dengan hatinya, yang dia ungkapkan dengan mulutnya dan yang dia kerjakan dengan tangan dan kakinya. Mungkin cukup egois kelihatannya, tapi setidaknya itu yang menjadi pemikiranku saat itu.

Mungkin itu alasannya kenapa kita hanya diberi pilihan satu saja. Dengan hanya diberi satu teman hidup saja kita diberi tuntutan untuk semakin bijak dan semakin berserah. Bijak untuk mengenal teman kita dan berserah agar diberi tuntunan untuk semakin bijak dan menyerahkan keputusan akhir dari jawaban berserah kita kepada Tuhan. Kita tidak mungkin memilih pasangan hidup seperti memilih buku dari raknya—yang ketika suatu saat buku tersebut sudah bosan kita baca dan kita tertarik untuk memilih yang lain, yang mungkin suatu saat juga akan kita ganti.

Sama seperti buku yang kita beli ataupun baca, pemahaman akan isi dan bukan tertarik pada penampilan luarnya semata akan membantu kita untuk memilih pasangan hidup kita dengan tepat.

salam,
efraim s

ditulis 26 juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s