Papua, Tanah yang terasing

Ekspedisi Tanah Papua, Kompas

 Orang kaya tidur di emperan toko, orang  miskin tidur di rumah

Harga BBM bisa mencapai diatas Rp. 30.000,- per liternya

Yang masih pakai koteka dilarang naik kendaraan umum

Situasi di atas merupakan sedikit dari fenomena yang dapat kita jumpai di tanah paling timur Indonesia, Papua. Tanah yang diberkahi oleh berbagai kekayaan alam yang tak terjangkau tangan penduduk aslinya. Bak membuka kotak Pandora, pertambangan yang dibuka di tanah Papua seperti memulai kutukan bagi penduduk Papua. Tak bisa menikmati hasil kekayaan alam mereka sendiri, mereka justru melarat dan terbelakang di atas kekayaan mereka. Mereka justru terasaing di tanah sendiri. Pembangunan  yang tidak tepat sasaran menjadikan mereka sebagai objek program pembangunan, bukan sebagai subjek pembangunan itu sendiri. Namun keterlambatan pembangunan ini tidak bisa dilimpahkan kepada pemerintah seluruhnya. Kultur budaya yang terdapat di Papua juga menjadi salah satu faktor penghambat pembangunan. Bayangkan, di Papua seorang pendulang emas lepas bisa mengumpulkan uang 2 juta sampai 10 juta sehari, namun uang tersebut akan dihabiskan dalam semalam untuk senang-senang dan mabuk-mabukan.

Siapapun pasti ingin maju, termasuk masyarakat Papua. Buku ini dengan gamblang memberikan catatan, data-data, pandangan para tokoh dan masyarakat asli tentang manusia dan kemanusiaannya. Dilengkapi dengan foto-foto keadaan disana, membuat tulisan dalam buku ini serasa membawa kita datang dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa yang terjadi saat catatan ekspedisi dibuat. Kenyataan, kegembiraan, kepahitan, kutukan atas limpahan alam raya, pergeseran nilai-nilai dan tradisi, serta bumerang dalam berbagai kasus pengambilan kebijakan di masa lalu; tersaji apik di dalamnya

Bukankah kemakmuran alam Indonesia ini dianugerahkan Tuhan untuk kemakmuran rakyat Indonesia juga? Lalu kenapa, justru begitu banyak tangan-tangan asing yang meraup kemakmuran? Sementara anak negeri hanya lebih sering kebagian limbah dan duka nestapa?

Kompleksitas masalah tanah Papua ada di dalam buku ini. Meskipun harganya cukup mahal, buku ini menjadi sangat murah karena membawa kita ’ekspedisi’ langsung ke Tanah Papua.Mereka yang cinta petualangan alam, para pengambil keputusan atas tanah Papua, pengkaji masalah seni budaya dan sosial antropologi, buku ini tak boleh dilewatkan. Salah satu referensi penting yang sangat membuka mata hati. Bahasa yang digunakan di dalam buku ini merupakan bahasa jurnal yang mungkin bagi beberapa orang tidak begitu mudah untuk menikmati tulisan ini. Walau jurnal ini tulis oleh wartawan kompas, tidak semua artikel yang ada di dalam buku ini merupakan tulisan yang baik dan bisa dipercaya sehingga tidak semua artikel di dalam buku ini bisa dijadikan referensi utuh.

Buku ini merupakan laporan perjalanan jurnalistik Kompas yang dilakukan di bulan Agustus 2007 selama tiga pekan yang melibatkan belasan wartawan dan fotografer. Buku ini membawa kita untuk melihat kembali ‘tanah air’ kita sendiri. Di sana sini kita menemukan kondisi yang kontras, teramat paradoks dalam realitanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s