Mimpian

Aku, kamera, dan penaku

Mencari selarik senyum

Dalam sederet suram

Untuk dibingkai dalam ngilu

 

Meletak hati saat perbani

Sambil menunggu remuk

Berlari, dari fajar kizib ke fajar sidik

Hingga bulan sayub berdiri

 

Ya, sengsara tak selalu kasar

Sembari menampar darah biar bergemuruh

Saat salah menantang gagah, jati menawar raga untuk sembah

Sudahlah, tawar pun tak berasa hambar

 

Memang, bias matamu tulis bianglala

Riuh nafasmu surat balada

Ah, ternyata….

Angan terperangkap dalam samar muka

Lelah melara asa

Sudahlah, lusa masih sebuah drama

 

Selasa, 8 Maret 2011

Ditulis sepulang dari rumah dosen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s