Mengadu

Bahkan kepada siapa rindu bisa mengadu

Kepada angin pun tidak,

Kepada bulan, dia hanya menambah beban ini

Mungkin hanya bisu yang tak surut menemani

Hening pun hanya bisa menunggu,  menemani sambil terdiam

Tak bisa ucap kata, bisu menjadi berjuta tafsir,

Gelap pekat malam, jadi sandaran,

Rinai gerimis jadi pelantun lagu resah

 

Bila sudah berlelah merindu,  bersujudlah

Menangis hati tak uraikan pilu

Bila bisik berselirkan risih, kenapa tak lantangkan saja?

 

Seakan menjawab getir dan amarahku, kau kirim petir dan guruh menjumpaiku

Senja memelukku dengan tanpa jaminan kan berujung hangat.

Pekat  pun menyajikan semangkuk kekeluan, kebekuan dan kedukaan

Yang menyamar dalam kelelahan, kerinduan, dan harapan,

Entah apapun makna dari menunggu dari kesejatian, kadang lelah pun sering membayang

Hanya pasrah dalam setia yang menjadi titian, hanya setipis embun kala mentari mendekat

 

Ah, sunyi ini semakin ramai di telingaku,

Gelapnya pun semakin terang dalam mataku

Barangkali belum saatnya, ramai menjadi bagianku

Mungkin belum saatnya,

Hanya hening menjadi obat, hanya sunyi yang memberi tenang

Malam ku tempat mengadu

 

Bandung, 14 Februari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s