Aku dan Sahabat (1)

Aku punya tiga benda mati yang menjadi sahabat dekatku saat ini. Sebuah kamera, sebuah pena dan buku. Kamera, teman tanpa mata yang bisa melihat cinta. Teman untuk bisa mengamati bukan sekedar melihat. Pena, nama kuno untuk sahabat yang senang bercerita. Sahabat tanpa mulut yang bisa bercerita cinta. Buku, sahabat untuk membuka cakrawala baru dan memberi ide. Namun, untuk saat ini aku hanya bercerita mengapa aku bersahabat dengan pena saja. Bersahabat dengan pena, aku diajaknya menulis dan aku jatuh cinta.

Ketika ditanya mengapa aku menulis dan untuk apa aku menulis, aku akan menjawab menulis adalah bahasa ke-dua-ku dalam menyampaikan sesuatu. Bahasa yang aku ucapkan untuk menyampaikan ide di kepalaku, emosi di hatiku dan teriak-teriak yang ingin dilantangkan. Dengan menulis, nyanyian hati yang sumbangpun tak ragu kulantangkan di halaman-halaman kertas puith. Dengan menulis, hatiku-pun bisa berbicara dengan sangat jelas.

Tak semua ucapan-ucapan dimulutku bisa menggambarkan isi hatiku. Tulisanku akan lebih jujur dalam menyampaikan isi hatiku. Setiap kata-kata yang terhampar di kertas-kertas putih akan cukup mahir menggambarkan keberadaan diriku. Kata-kata tidak bisa berbohong. Jika melalui mulut aku masih bisa berbohong, biarlah lewat tulisan aku menjadi jujur.  Apa yang aku tulis adalah diriku.

Tulisan yang aku buat akan menunjukkan seberapa bodoh diriku. Aku adalah apa di tulisanku. Sering aku ingin mencoba berbohong dalam tulisan tentang diriku. Ya, yang kutemui hanyalah rangkaian huruf tanpa arti,  kumpulan kata tanpa makna dan barisan kalimat tanpa nada. Orang hanya akan membaca keindahan di kulit luarnya saja, tidak meresap, seperti diri tanpa jiwa. Aku mengajak orang untuk membaca kebohongan.

Menulis bagiku bukan sekedar merangkai kata. Menulis tak sesederhana permainan olah kata. Memilih kata dalam rangkaian kalimat yang indah yang akan membuat pembaca merasa di dunia lain.  Namun, menulis adalah hasrat yang harus dihidupi. Penulis dan pembaca harus merasa hidup.

Saat menulis, aku menemukan diriku. Aku menggambar diriku.  Aku menulis diriku. Aku bercermin pada tulisanku. Aku melihat diriku.

Ada sebuah kalimat dari Pramoedya Ananta Toer yang sangat mempengaruhi keinginan saya dalam menulis. “ orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”, tutur Pramoedya.

Aku berbagi tulisan dengan orang lain. Aku berbagi ide. Aku berbagi kritik. Aku berbagi gagasan. Aku berbagi cinta. Aku berbagi hidup.

Aku menuliskan huruf-huruf untuk menyanyikan hatiku. Aku merangkai kata untuk meneriakkan jiwaku. Aku mengukir kalimat untuk mengukir sejarahku.

Kamera, pena, dan buku  adalah tiga benda mati yang jadi teman dikehidupanku saat ini. Teman untuk mencari arti diri. Mencari lewat foto dan tulisan. Melalui foto aku mengabadikan cinta. Lewat tulisan aku bercerita semangat. Lewat buku, aku mencari wawasan.

Ditulis pada 18 Februari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s